ILMU DAN SENI, SEBENTUK EKLEKTISISME
oleh: Ahmad Nashih Luthfi
Dalam bab ini, akan ditelusuri tiga peranan penting Umar Kayam; dalam dunia kesusastraan, kesenian, dan aktifitas keilmuan (kebudayaan) secara umum.
Sebagai seorang sastrawan, sebenarnya Umar Kayam tidak terlalu produktif. Sepanjang karier kesusastraannya, ia hanya menghasilkan beberapa cerpen, dua buah cerpen panjang (novelette) dan dua buah novel. Meski demikian, Umar Kayam telah menunjukkan eksistensinya sebagai sastrawan utama dalam jajaran sastrawan Indonesia.
Karya sastra pertamanya yang diterbitkan berjudul “Bunga Anyelir”. Sebuah cerpen yang berkisah tentang seorang remaja yang membawa seikat bunga anyelir untuk pacarnya di rumah sakit. Cerpen itu dimuat dalam sebuah majalah di Jakarta dan ditulis sewaktu ia masih SMA. Sayang ia tidak ingat majalah apa yang menerbitkannya
[1]Karya-karya Umar Kayam dapat dikategorikan dalam lima tahap. Pertama, karya-karya awal berupa cerpen yang kemudian diterbitkan dalam kumpulan cerpen berjudul Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (1961) yang sebelumnya pernah dipublikasikan dalam majalah Horison. Buku ini berisi kumpulan cerpen yang berjudul Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Istriku Madame Schlitz dan Raksasa, Sybil, Secangkir Kopi dan Sepotong Donat, Chief Sitting Bull, dan There Goes Tatum. Kedua, dua cerpen panjang (novelette) Sri Sumarah dan Bawuk (1975) dalam satu kumpulan buku dan Kimono Biru untuk Sang Istri (1973). Ketiga, Totok dan Toni, merupakan buku cerita anak yang diterbitkan dalam tahun 1975. Keempat, novel Para Priyayi (1992). Kelima, cerpen-cerpen yang dipublikasikan oleh Yayasan Untuk Indonesia dengan judul Parta Krama (1997) dan diterbitkan ulang dengan beberapa tambahan cerpen oleh Kompas dengan judul Lebaran di Karet. Di Karet...(2002) . Dan keenam, novel terbaru dan terakhir yang berjudul Jalan Menikung: Para Priyayi 2.
Rachmat Djoko Pradopo memasukkan Kayam sebagai sastrawan angkatan 50 (1950-1970).
[2] Gaya bercerita pada angkatan ini menunjukkan kebaruan dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Periode angkatan 50 ini memiliki gaya murni bercerita. Yaitu gaya bertutur yang hanya menyajikan cerita saja tanpa menyisipkan komentar, pikiran-pikiran, dan pandangan-pandangan pengarang. Gaya cerita murni menyebabkan alur cerita menjadi padat tanpa digresi. Karena hanya menyajikan cerita, maka pembaca memiliki kebebasan untuk menafsir. Penulis cenderung “tidak tampak” dalam karya. Inilah perbedaan pokok antara cerita rekaan angkatan 50 dan angkatan 45. pada tahun-tahun itu semangat “dekolonisasi” dan penonjolan orang Indonesia demikian terasa dalam sebuah karya sastra, untuk menunjukkan “siapa aku”. Singkatnya, ciri khas angkatan 50 tampak jelas dalam karya-karya Umar Kayam.
Kekhasan karya Umar Kayam menyebabkan cerita-ceritanya tak pernah hanya memiliki satu arti. Ia memberi kebebasan penuh pada pembaca untuk menyimpulkan dan menafsirkan cerita. Ia sekadar memberi gambaran suasana tertentu dan melalui suasana yang terbias dari batin tokoh-tokohnya. Sejumlah tema bisa muncul, pembaca dapat menemukan tema cerita dari banyak segi, sesuai dengan horison harapan masing-masing. Unsur inilah yang membuat karya-karyanya istimewa.
Karya sastra Umar Kayam membawa genre baru sebagai “kisah suasana”. Dalam cerpen maupun novelnya, suasana setting kisah begitu kuat hingga pembaca tenggelam mengimajinasikannya.
[3] Ia adalah seorang materialis radikal dalam bersastra maupun dalam kesehariannya. Properti-properti yang disajikan untuk mendukung suatu kisah dalam novelnya diuraikannya secara mendetail. Kemampuan inderawinya menyeluruh dan tajam, mampu menangkap detail-detail, dan partikularis. Sebenarnya gambaran semacam ini juga untuk mengatakan “style” Umar Kayam sebagai seorang ilmuwan.
[4] Selain itu, karya Umar Kayam dalam bentuk kumpulan kolom (Mangan Ora Mangan Kumpul, 1990, Madep Ngalor Sugih Madep Ngidul Sugih, 1998, Sugih Tanpa Banda, 1999, dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit, 2000) memberikan nuansa kehangatan, keakraban, dan kekeluargaan. Karya itu menotasikan tradisi mendongeng (tradisi keberlisanan) yang sudah terpinggirkan.
[5] Suatu tradisi interaktif yang oleh Umar Kayam dicobaalihkan dalam tulisan-tulisan kolomnya itu. Karya Umar Kayam yang stylist dalam “ber-suasana” dan orally nuance mulai tampak pada cerpen masterpiece-nya yang terbit pada tahun 1961, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan.
A. Ulasan beberapa Karya Sastra: Reinterpretasi Kepriyayian
Dalam mengulas beberapa karyanya, akan diuraikan terlebih dahulu proses kreatif Umar Kayam. Uraian didasarkan pada wawancara dengan istrinya, Rooslina Hanoum.
[6]Menurut penuturan Rooslina Hanoum, Umar Kayam sewaktu di New York ingin membuat cerpen pendek, very short short story, lalu muncullah enam cerpen dalam “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” tahun 1961. Masa itu penulisan cerpen di Indonesia didominasi oleh suatu gaya yang “penuh bunga”, berlimpah-ruah permainan kata untuk menuju ke sebuah cerita. Umar Kayam dalam cerpen itu seakan menghentak publik sastra dengan gayanya yang tidak berpanjang-panjang kalimat, padat, namun berusaha memuat cerita yang ingin disampaikan. Gaya semacam ini memanfaatkan permainan properti dan simbol untuk mendukung ke arah penciptaan suasana dan arah cerita.
[7]Mereka duduk bermalas-malasan di Sofa. Marno dengan segelas Scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar djendela.
“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap hendak memaksaku untuk pertjaja itu?”
“Ja, tentu sadja, kekasihku. Ajolah akui. Itu ungu bukan?”
“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnja itu?” (hal. 7)
Dari dapur Jane mentjoba berbitjara lagi.
“Tommy, suamiku, bekas suamiku, kau tahu…..Marno darling.”
“Jaa, ada apa dengan dia?”
“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”
Pelan-pelan Jane berdjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.
“Di Alaska. Tjoba gambarkan di Alaska.” Op.Cit.
[…]
“Tapi minggu jang lalu kau bilang dia ada di Texas atau Kansas. Atau mungkin Arkansas.”
“Aku bilang, aku m-e-r-a-s-a Tommy ada di Alaska.”
“Oh.”
“Mungkin djuga dia tidak di mana-mana.” (hal. 8)
[8][…]
Lampu-lampu yang pada berkelip di belantara pentjakar langit jang kelihatan di djendela, mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang jang suka bertabur malam-malam di sawah embahnja di desa. (hlm. 10)
[…]
“ Marno waktu kau masih ketjil….Marno kau mendengarkanku ‘kan?”
“Ja”
“Waktu kau masih ketjil pernahkah kau punja mainan kekasih?”
“Mainan kekasih?”
“Mainan jang begitu kau kasihi hingga kemanapun kau pergi selalu harus ikut?” “Aku tidak ingat lagi Jane. Aku ingat sesudah agak besar aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Djlamprang”.
“Itu bukan mainan, itu piaraan:
“Piaraan bukankah untuk mainan djuga?”
“Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom”. (hlm. 13)
Kedua tokoh dalam cerpen di atas mewakili dua kultur yang berbeda. Masing-masing tokoh mencerminkan keterasingan karena perbedaan kultur yang tegas dan perbedaan kepentingan. Jane memikirkan suami dan masa kanak-kanaknya. Sedangkan Marno mengenang dusunnya di Indonesia. Dari ketinggian apartemen, Marno melihat lampu-lampu yang berkerlip dari gedung-gedung bagaikan kunang-kunang di sawah kakeknya di desa. Keduanya berpijak pada dunia masing-masing dan berdialog dengan pikiran masing-masing. Umar Kayam mempertemukan keduanya, mendialogkan dalam konteks multikulturalisme.
Dalam cerpen Istriku Madam Schlitz dan Raksasa, ia merekam New York sebagai kota dengan belantara gedungnya yang menakutkan. Semuanya serba asing baginya. Keramah-tamahan adalah suatu kemewahan, untuk sekadar bersesapa menanya kabar. Untunglah masih ada Madame Schlitz, tetangga seapartemen meski dengan keusilannya yang menjengkelkan, ia menjadi teman yang pantas untuk dikenang.
Cerpen Umar Kayam periode New York yang bergaya demikian diduga orang sebagai karya terjemahan. Terjemahan dari bahasa Inggris berciri kalimat-kalimat pendek namun padat. Barangkali ia terpangaruh oleh J. D. Salinger, Ernest Hemingway, William Faulkner, atau John Steinbeck. Gambaran tentang rumah-rumah dan relitas urban di kota-kota, Umar Kayam terpengaruh oleh karya-karya Pete Seeger melalui lirik-lirik lagunya.
Seperti yang dikemukakan Faruk HT, bahwa jika dibandingkan dengan Budi Darma, Satyagraha Hoerip dan Kuntowijoyo, yang juga menulis cerpen-cerpen berlatar belakang luar negeri, Umar Kayam lebih unggul. Keunggulannya terletak pada kemampuan membebaskan diri dari muatan filsafat, gagasan dan cara pandang yang dingin. Di samping itu, kecermatan Umar Kayam dalam memotret situasi kehidupan orang-orang metropolis di Amerika sulit ditandingi.
9Berlanjut dengan karya beliau yang very short short story, keluarlah “Musim Gugur di Connecticut”. Lalu Umar Kayam mencoba menulis novel pendek (novellet), sehingga keluarlah “Kimono Biru untuk Sang Istri” dan “Sri Sumarah dan Bawuk”. Judul terakhir terbit tahun 1975.
Ada satu ciri khas dari Umar Kayam ketika menulis. Ia tidak terbiasa menulis di atas kertas buram (yang biasa digunakan sebagai draft atau kertas corat-coret) namun langsung menggoreskan ceritanya sekali jadi. “Teori nuansa” agaknya lahir dari efektifitas semacam ini dengan abstraksi yang telah dituntaskan di kepala. “Yang lama bukan menulisnya itu, namun bengongnya. Kalau sudah seperti itu nggak bisa diganggu”.
[9]Pada tahun 1992 keluarlah novel panjang yang berjudul “Para Priyayi”. Setiap pelaku secara otobiografis diurai mendetail karakter dan pergulatannya. Dalam teori kesusastraan ketika menganalisis tokoh atau pelaku, dikenal istilah hero atau heroine, pahlawan atau pahlawan wanita. Suatu pemaknaan dari sisi “dominasi” peran. Secara spesifik, istilah heroine sebenarnya digunakan untuk menunjuk pelaku yang bukannya tokoh utama, namun bila diperbandingkan ia sebagai tokoh kedua yang masih ditopang oleh tokoh utama. Pembedaan semacam itu tidak ditemukan dalam novel tersebut. Semua berhak (sebagaimana dalam kehidupan sebenarnya) menjadi tokoh utama. Hanya saja memang novel tersebut, yang berbicara tentang mobilitas vertikal sebuah keluarga menuju jenjang priyayi, menyajikan tonggak-tonggak, milestones suatu perjalanan kehidupan. Tonggak-tongak itu dipancangkan oleh seorang tokoh bernama Sastrodarsono (diduga, dalam kehidupan Umar Kayam sebenarnya, ia menjadi transfigurasi sosok Sastrodarmodjo, seorang kakek dari pihak ibu). Menurut Lukacs, cara biografis, penceritaan melalui sudut pandang pertama setiap tokoh adalah suatu kecenderungan modern.
[10] Novel “Para Priyayi” rampung, Rooslina Hanoum yang istrinya itu membacanya dengan tercengang, seakan ia baru saja melakukan kilas balik terhadap kehidupannya. Refleksi terhadap sebuah keluarga “priyayi” di kota Medan sana. Pada tahun 1999 terbit seri kedua “Para Priyayi” yang diberi judul “Jalan Menikung”. Novel ini ditulis di Jepang untuk melengkapi “sejarah keluarga” generasi berikutnya. Tokoh Lantip (yang agaknya mirip dengan pribadi Umar Kayam sendiri) dalam “Para Priyayi” memang telah mendeligitimasi kepriyayian, dengan caranya sendiri. Dalam “Jalan Menikung” yang dideligitimasi bukan lagi unsur kepriyayian, namun kehidupan itu sendiri yang dalam konteks itu dibingkai oleh pergulatan antara Jawa dan Amerika, Islam dan Yahudi, antara Eko dan Claire. Suatu karya yang mengajak untuk melihat berbagai kelompok masyarakat. Baik sebagai gaya hidup maupun cara pandang yang melekat pada perjalanan dalam mengisi hidup, termasuk cara memandang agama lain, tradisi, dan asimilasi budaya.
[11]Apakah kedua novel tersebut merupakan kesejarahan Umar Kayam dengan segenap sisi faktualnya? Agaknya ia sudah siap dengan pertanyaan semacam itu. Dengan tegas ia sebutkan dalam judul karyanya tersebut sebagai ”Sebuah Novel”. Pembacaan atas karya tersebut hanya bisa diletakkan sebagai mentifact dalam memahami kehidupan Umar Kayam, dan sosiofact terhadap gambaran kehidupan priyayi khususnya, dan Jawa pada umumnya. Hal ini tidak terlepas dari keinginan Umar Kayam untuk membantah pandangan para sejarawan dan antropolog asing,
[12] khususnya Clifford Geertz yang membagi masyarakat Jawa secara trikotomis; santri, priyayi, dan abangan. Masing-masing digambarkan secara berbeda. Padahal pensejajaran semacam itu tidak tepat. Klasifikasi yang tumpang tindih antara pengelompokan sosial dan ketaatan beragama.
[13]Umar Kayam memang tidak hendak menyusupkan suatu kegairahan pendobrakan yang dilakukan oleh “kelas menengah” Jawa, yakni priyayi itu. Ia sedang menggambarkan kelompok itu mewakili zamannya, berdasarkan pengalamannya. Lantas, berhasilkah Umar Kayam memberi penggambaran berbeda tentang kelompok masyarakat tersebut? Di satu sisi, agaknya ia semakin menegaskan dan memperkuat tipologi priyayi (dan Jawa) yang hidup dalam dunia mat-matan, (perhatikan penggambaran yang demikian berlimpah tentang makanan dan klangenan dalam novel maupun kolomnya) ayem, dan tampaknya tanpa disertai kerja keras. Mobilitas vertikal mereka tidak ditempuh melalui serangkaian pergulatan dan perlawanan terhadap status, namun mereka bersikap oportonis terhadap suatu orde dan kekuasaan, dengan cara menunggangi jabatan. Sebagaimana yang dikritik oleh Nirwan Ahmad Arsuka, dengan demikian teologi priyayi Umar Kayam adalah: Mangan Ora Mangan Puas; Madhep Ngalor Puas, Madhep Ngidul Puas.
[14] Kepuasan hadir di mana-mana. Logika puas bersembunyi di balik pembenaran pemahaman masyarakat Jawa tentang kekuasaan yang mistis, simbolik, dan diserap dalam ruang-ruang pribadi nan spiritual. Meski, secara nyata mereka berada di bawah kekuasaan Belanda dan Orde Baru misalnya. Tapi benarkah tuduhan ini? Bagaimana bila dilihat secara berbeda, bahwa Umar Kayam, “the last priyayi”, sedang menyindir bahwa yang tersisa dari kelompok ini adalah sisi hedonimsenya semata dan menanggalkan obligasinya kepada masyarakat.
Umar Kayam memang telah sukses menggambarkan priyayi sebagai achivement status¸ diperoleh secara profesional sebagai proses pencapaian, bukan keturunan bangsawan. Petani kecil Atmo Kasan dalam hubungan patron-client-nya dengan Ndoro Seten Kedungsimo berhasil “membaptiskan” seorang anaknya, Soedarsono menjadi Sastrodarsono. Menjadi priyayi desa. Kekuasaan Belanda, Jepang, Orde Lama dalam peristiwa 65 dan serangkaian pembantaian PKI, menguji keutuhan keluarga priyayi yang dibangun oleh Sastrodarsono itu. Krisis keluarga Jawa memperteguh kekuatan seorang istri. Ngaisah digambarkan dalam novel tersebut, tanpa banyak bicara lantas membuatkan minuman hangat dan membimbing suaminya untuk duduk. Penyelesaian khas ala Jawa, soo Javanesse. Penulis membayangkan, sosok Ngaisah itu adalah Sri Martini bagi Soekotjo, atau nenek Umar Kayam bagi Sastrodarmodjo kakeknya.
Menghadapi krisis tersebut masing-masing generasi menyikapi secara berbeda dalam etiketnya. Secara umum krisis kekuasaan keluarga priyayi diselesaikan secara khas Jawa; kembali ke dunia dalam, inward looking, mat-matan. Apakah etika (teologi) semacam ini diwarisi sejak tahun 1755, dengan semakin terkikisnya kekuasaan politik Mataram hingga menjadi terpecah-belah. Lantas mereka kembali ke dunia klangenan, dunia kesusastraan dan seni. Bukankah dunia seni ini menapaki kemajuannya, sebagaimana dikatakan Pigeaud hingga Nancy K Florida, mengiringi ketercerabutan Jawa dalam kekuasaan politik, menjadi Jawa yang Kalah (The Loser Java)? Terjadi “barouqe”-isasi, pada kerumitan yang membuncah. Uniknya, Jawa yang kalah ini, yang kemudian dengan segenap sisa-sisa kekuasaannya, (dituduh) melakukan Jawanisasi dalam ideologi politik Orde Baru, melalui politico-familial dalam relasi Bapak-Anak misalnya.
[15] Jawa menderita post-power syndrome yang senantiasa mencari pijakan sebagai ganti rugi.
Para Priyayi adalah “jihad intelektual” Umar Kayam tentang seseorang dalam menjalani fungsi kemanusiaannya, yang mula-mula adalah Jawa. Dalam mengantar prosesi pemakaman kakek Sastrodarsono, Lantip berpidato: “Embah Kakung ingin ikut memberi warna kepada mosaik semangat itu dengan menitikberatkan perluasan kemungkinan pendidikan wong cilik agar kelak wong cilik itu ikut pula menentukan warna semangat priyayi itu.” Lebih lanjut saat ia ditanya apa makna priyayi, Lantip menandaskan: “Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting lagi bagi saya”.
[16] Penulis membayangkan yang sedang berdiri itu adalah Umar Kayam beberapa tahun sebelumnya, saat ia membacakan pidato guru besarnya pada tahun 1989; bahwa transformasi budaya kiat-memerintah, statecraft, dari sosok budaya Mataram di Jawa menjadi kiat-memerintah suatu beambtenstaat, negara pangreh-praja atau negara birokrasi merupakan proses yang menarik. Di lain pihak sekelompok orang dengan latar belakang santri dan pedagang turut membangun kesadaran bernegara, berkebudayaan.
[17] Mereka mempunyai otonomi sebagai prasyarat terbentuknya apa yang kini disebut masyarakat sipil. Pada tahun 1991, dalam Kongres Kebudayaan Nasional ia menegaskan pendiriannya;
“Hadirin yang mulia,......Dengan konsep pendidikan yang menyeluruh, integral, relevan dengan tuntutan proses transformasi ke budaya industri dan ekonomi pasar, pendidikan di rumah dengan begitu, sedikit banyak harus disesuaikan. Mendidik untuk berani bersikap dan bertindak mandiri, tidak terlalu bernapsu mengejar karier menjadi birokrat pemerintah, menjadi priyayi, tidak jijik menjadi pedagang, berusaha untuk selalu kreatif, berani untuk tidak terlalu tergantung kepada keluarga inti atau keluarga jaringan, akan tetapi juga akan selalu bersedia menolong anggota keluarga jaringan yang membutuhkan pertolongan meskipun harus tetap juga memperhatikan kaidah-kaidah masyarakat modern yang lugas.”
[18]Obligasi kepriyayian, dengan keikhlasan untuk mengayomi wong cilik berada dalam bingkai karitatif. Secara lebih hati-hati bisa dilihat bahwa kecenderungan semacam itu tidak dapat disebut sebagai aksi solidaritatif, untuk membuat posisinya secara struktural mandiri. Dengan demikian Umar Kayam tidak berhasil mereinterpretasi kepriyayian dalam makna yang baru.
Novel Umar Kayam memang bukan diktat sosiologi, bukan pula sejarah. Namun dengan penjelasan yang demikian struktural, penyajiannya sebagai novel melahirkan kritik dalam paradigma ilmu sosial. Dalam novelnya itu, ia mampu memanfaatkan rekaman realitas individu (data-data pribadi) yang tidak ditangkap oleh sejarah dan sosiologi yang hanya mampu merekonstruksi data-data kasat mata. Pada mulanya pengalaman pribadi itu tanpa bentuk, lantas pengarang memberi wadah hingga pengalaman mempunyai makna. Akhirnya pembaca merasa diajak “turut serta” dalam pengalaman itu. Dan di sinilah letak fungsi kesusastraan (susastera dalam maknanya yang luas). Kekerasan, heroisme, kehampaan, absurditas, kegembiraan, dan sebagainya kemudian menjadi “perasaan-perasaan terbuka” dan lebih “demokratis” melalui bentuk karya sastra.
Setidaknya dalam sejarah kesusastraan Indonesia Umar Kayam telah menyumbangkan pendekatan realisme kultural. Seorang realis dengan kemampuan mengolah data-data kultural dan etnisitas secara kreatif. Berbeda dengan realisme borjuis kuno yang psikologis tentang “kerajaan-sentris” atau realisme sosialis yang cenderung tipologis berdasar ideologi dan garis politik seseorang (sosial politis), realisme kultural Umar Kayam hadir melalui pendekatan antropologis. Baik dari segi cara pengungkapan maupun pendekatan terhadap kehidupan. Relisme kultural itu menjadi suatu kecenderungan yang banyak ditiru oleh generasi berikutnya; Satyagraha Hoerip, Bakdi Soemanto, Emha Ainun Nadjib, Linus suryadi AG, bahkan YB Mangunwijaya.
[19] Demikian pula ketika Umar Kayam dinilai orang telah menggojlok mandulnya ilmu-ilmu sosial.
B. Karya Umar Kayam dan Tragedi Kemanusiaan 1965-1966
Dalam bab sebelumnya telah disinggung tentang rekaman Umar Kayam terhadap peristiwa G 30 S/ PKI. Di sini kembali dibahas lebih jauh tentang ambivalensi dia, antara sosok cendekiawan dan teknokrat, sastrawan melalui karyanya dan pejabat pemerintah melalui kebijakannya.
Dalam bidang politik Umar Kayam memilih Golkar sebagai kendaraan politiknya. Ia menaruh harapan pada Golkar sebagai wadah yang dapat memberi format politik kepada pemerintahan Soeharto untuk memerintah negeri ini lebih baik. Ia berharap Golkar bisa menjadi “penyegar” dan penyumbang pemikiran dan bahan-bahan untuk menyempurnakan programnya. Umar Kayam tidak setuju adanya keharusan pegawai negeri termasuk guru-guru supaya masuk Golkar. Depolitisasi pegawai negeri menurutnya hanya berarti bahwa pegawai harus menjalankan program dan garis kebijakan pemerintah dalam melaksanakan tugas kepegawaiannya, tanpa ada keberpihakan pada ideologi tertentu.
[20] Meski ia memilih Golkar, institusi yang dipimpinnya, DKJ harus bersifat non-politik. Ia juga tidak aktif berkampanye dan mempropagandakan kepada kawan-kawannya untuk memilih Golkar. Alasan mengapa ia masuk Golkar adalah, meski pemerintah saat itu banyak dijumpai kekurangan, namun telah menunjukkan prestasi yang cukup berarti. Pertumbuhan ekonomi (economic growth) yang membaik bila dibanding dengan pemerintahan masa lalu, merupakan suatu hasil dari kerjasama yang baik antara pemerintah dengan para teknokrat. Kerjasama semacam itu merupakan pola baru dalam pemerintahan yang tidak ditemukan pada masa sebelumnya.
[21]Pemilu 1971 berlangsung pada tanggal 5 Juli. Berbeda dengan Pemilu 1955 yang membebaskan seluruh warga negaranya untuk bisa ikut menjadi calon partai secara formal, pada Pemilu 1971 pejabat negara diharuskan bersikap netral. Akan tetapi dalam kenyataannya pada Pemilu 1971 para pejabat pemerintah berpihak kepada Golkar. Umar Kayam yang secara terbuka mengatakan akan memilih Golkar sebelum pemilu berlangsung layak kecewa dengan kenyataan tersebut.
Ambiguitas Umar Kayam antara posisinya sebagai teknokrat yang diharapkan mendukung penuh kebijakan pemerintah dan posisinya sebagai sosok ilmuwan yang idealnya bersifat kritis dan netral, berlangsung terus menerus dalam dirinya. Suatu pergulatan yang tak berkesudahan.
Karyanya Sri Sumarah dan Bawuk terbit tahun 1975. Ia menulisnya pada tahun 1973 di Hawaii ketika ia masih menjabat sebagai ketua DKJ, saat masih menjadi seorang teknokrat. Ia berangkat pada 22 Februari 1973 setelah bertolak dari Tokyo menuju Hawaii atas undangan East West Center dalam program Senior Fellow Award. Di sana ia tinggal selama 6 bulan untuk merampungkan tulisan berupa essay dan novel yang terbengkalai karena kesibukannya sebagai ketua DKJ.
[22] Melalui novel itu ia memaknai apa yang terjadi dalam peristiwa kemanusiaan pada tahun 1965-1966. Tragedi kemanusiaan telah terjadi di bumi Indonesia. Karya inilah yang menjadi saksi dari pemaknaannya terhadap tragedi tersebut. Melalui sudut pandang korban, Umar Kayam berusaha berempati terhadap mereka. Barangkali di luar negeri itulah ia bisa menulis dengan cara yang berbeda. Suatu historiografi baru dalam karya sastra yang tidak menyoroti siapa aktor di balik pemberontakan G 30 S, namun pada akibat yang ditimbulkan dari peristiwa pembantaian yang mengiringinya. Sementara di luar negeri sudah banyak tulisan yang meragukan G 30 S/ PKI itu.
Kemenduaan itu bukan berarti telah berakhir dengan ditandainya karya Sri Sumarah dan Bawuk. Pada tahun 1985 keluar film versi pemerintah yang berjudul Pengkhianatan G 30 S/ PKI. Film itu disutradarai oleh Arifin C. Noer dan Umar Kayam berperan sebagai Presdien RI pertama Soekarno. Secara sekilas tindakannya ini dapat dinilai mendekonstruksi karyanya sendiri, Sri Sumarah dan Bawuk. Sebuah pengkhianatan intelektual saat ia ikut memproduksi wacana sejarah tentang keterlibatan PKI dan melegitimasi pemerintah dalam melakukan serangkaian pembantaian terhadap pengikut partai tersebut. Umar Kayam tidak hanya memroduksi teks sejarah melalui film itu, tetapi ia bungkam terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. Alasan personal tidak bisa diterima ketika ia mengaku bahwa “Main film itu tidak ada yang menarik. Kalau saya sempat ikut dalam empat judul, itu karena diajak oleh teman-teman sendiri. Jadi rasanya ndak enak kalau menolaknya”. Demikian pengakuannya pada Merdeka Minggu pada tahun 1986.
[23] Perannya dalam film Kugapai Cintamu tidak lebih karena ajakan sahabatnya Wim Umboh sebagai sutradara, demikian juga dalam Karmila oleh Ami Priyono. Tentu saja berbeda dengan kedua film ini yang bertemakan cinta anak muda, Pengkhianatan G 30 S/ PKI adalah film propaganda. Mungkin ia tidak memperkirakan bahwa film tersebut diputar dengan wajib tonton dari tahun ke tahun guna melegitimasi pemerintahan Soeharto dan mendiskreditkan PKI. Film itu menjadi memori kolektif masyarakat yang hidup di tahun 1985 dan seterusnya. Dari nenek hingga cucu, tetangga kanan-kiri berdatangan mewajibkan dirinya duduk menghadap sekotak elektronik dalam sebuah ruang tamu yang remang. Mereka tidak sedang memperhatikan Soekarno yang Umar Kayam barangkali, namun pada Jenderal A. Yani diberondong senapan, istri Panjaitan meraupkan wajahnya dengan darah, dan para anggota Gerwani bertari telanjang dan menyilet wajah para jenderal.
Saat diam bukanlah emas. Keterlibatan apalagi, indikasi sebuah persetujuan.
C. Aktifitas Kesenian dan Keilmuan Umar Kayam
Aspek kedua peran Umar Kayam adalah dalam bidang kesenian. Kesenian yang dikembangkan oleh Umar Kayam tidak sebatas pada kesenian adiluhung atau serius yang saat itu identik dengan dunia kampus, namun juga kesenian populer dan rakyat. Ia menjungkirbalikkan apa yang disebut adiluhung ketika menjabat ketua Dewan Kesenian Djakarta pada tahun 1969-1973. Foto-foto pertunjukan di TIM semasa kepemimpinannya mendokumentasikan nama-nama Rendra dalam Scene from Oedipus Rex, Sardono W. Kusumo dalam Sangita Pantjasona, dan Rhoma Irama yang kemudian dikenal sebagai raja dangdut. Ditampilkan pertunjukan drama kontemporer, ballet, wayang golek dan kulit, serta dongeng Pak Kasur pada Oktober 1971, orkes gambus Metropolitan Gambus Orchestra pimpinan M. Sanip dalam “Semalam di Padang Pasir” pada bulan November 1970, kontes lagu-lagu Pop Nasional Seluruh Indonesia pada tanggal 10-13 Desember 1971, konser musik India oleh Padavina dan Mirudangan September 1971, Pameran Seni Lukis I tanggal 15 Desember 1971, dan pentas tari foklorik yang diikuti oleh seniman tradisional Sumatra pada 8 Februari 1972.
Kebijakan Umar Kayam sedari awal telah memunculkan kritik. Pada tahun 1969, surat kabar Sriwandi memberi ulasan bahwa adanya acara musik pop di TIM hanya ingin menjadikan tempat pembinaan kebudayaan itu selayaknya tempat rekreasi a la bar dan restoran di Miraca Sky Club, Bina Ria dan lain-lain. Media ini mengatakan bahwa alangkah sia-sianya subsidi sebanyak Rp. 2 juta perbulan bila digunakan untuk acara-acara yang menghilangkan idealisme DKD melalui adanya orang macam Umar Kayam
[24] Kritikan semacam itu wajar sebab publik belum mengetahui arah kebijakan tersebut. Baru pada pertengahan tahun 1970 persoalan pop dan adiluhung menemukan pijakannya melalui serangkaian diskusi-diskusi dan eksperimen dalam berbagai bentuk, menjawab persoalan yang mengemuka pada awal-awal pemerintahan Orde Baru dan dalam bidang kesenian dengan munculnya sosok Umar Kayam. Tradisi, kerakyatan, keadiluhungan, dan populer secara bersamaan coba diapresiasi.
Pada tahun 1973 Umar Kayam dinyatakan demisioner dari DKD. Selama 2 tahun ia tidak berada di sebuah lembaga khusus, meski statusnya masih sebagai pegawai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sampai pada tahun 1975-1976 ia memimpin Pusat Latihan Penelitian Ilmu‑Ilmu Sosial di Ujung Pandang. Oleh Ford Fondation melalui Peter Weldon ia ditawari untuk mengurusi lembaga tersebut. Bersama seorang antropolog Peter R. Goethals ia melatih peneliti-peneliti sosial dari berbagai kota. Ketika ditanya apakah tidak kikuk kembali menekuni dunia kelimuan setelah sekian lama tampil sebagai sosok seniman, ia mengatakan tidak. Keduanya tidak saling bertentangan malah dapat saling melengkapi. Sambil menyebut Michael Schofield ahli di bidang metode dan teknik penelitian ilmu sosial, Umar Kayam menegaskan bahwa perlunya kesadaran akan batas-batas kemampuan penelitian ilmu-ilmu sosial dewasa itu. Demikian banyak dan beragam unsur dan sikap manusia yang tidak bisa dikaji oleh metode dan teknik penelitian ilmu-ilmu sosial. Sisanya hanya dapat ditimba dari karya-karya Dickens tentang kemiskinan, Flaubert dan Balzac tentang kejiwaan. Ia memperkenalkan metode grounded research, yang dalam perkembangannya menjadi awal penerapan metode Participatory Action Research (PAR) yang dikenal dalam sejarah ilmu sosial di Indonesia.
Oleh Parakitri T Simbolon, kekhasan itu disebut sebagai “Metode Umar Kayam”, yakni perpaduan kesenimanan dengan keilmuan. Para peneliti tidak terlebih dahulu dibebani pengetahuan teoritis tentang metode penelitian, namun setiap calon peneliti dibiarkan langsung terjun ke dalam persoalan yang dihayati, lalu berusaha memecahkan sesuai dengan tiap langkah tindakan dalam seluruh proses penelitian itu. Penelitian adalah juga “pengalaman”, seperti seniman yang menceburkan diri dalam dunia pengalaman dan penghayatan dalam aksinya. Pengalaman pribadi peneliti penting artinya sebagai sikap dalam perkembangan baru di lapangan dan mencari metode serta teknik terbaik untuk memecahkannya.
[25] Apakah metode semacam ini mengarah pada prinsip Baconian yang menekankan nilai praktis pengetahuan? Suatu prinsip yang melahirkan pandangan bahwa tanpa teori, konsep, paradigma, hipotesis, atau generalisasi lainnya, penelitian sosial dapat dilakukan. Sepertinya Umar Kayam tidak sejauh itu bertindak ceroboh. Pengetahuan dasar penelitian diandaikan telah terlebih dahulu dikuasai oleh peneliti. Penelitian bukan tindakan common sense. Apa yang dimaksudkannya adalah bahwa pengalaman (ngalami dalam pengertian Jawa) lebih pada keterlibatan atau involvement—of inquiry. Dengan senantiasa mengandaikan bahwa konsep, teori, dan paradigma senantiasa berubah sesuai dengan proses di lapangan. Dalam pengertian ini tuduhan bahwa ilmu-ilmu sosial di Indonesia menjadi ahistoris dapat dihindari. Pengadopsian membabi buta dominant theory pada tahun 1960an ketika banyak orang Indonesia dikirim ke luar negeri untuk mempelajarinya, lantas diterapkan di Indonesia tanpa melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lapangan hanya akan merekomendasikan pumpunan pengetahuan yang salah dan menyesatkan.
[26]Keberpihakannya pada kesenian rakyat juga ditunjukkan ketika menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian dan Studi Kebudayaan UGM Yogyakarta (1977-1997). Kegiatan yang paling terkenal waktu itu adalah Pasar Seni Rakyat.
[27] Tepatnya tanggal 4-5 November 1978 di Boulevard UGM didirikan kios panjang untuk berbagai acara yang diberi judul Pasar Seni UGM 1978. Pasar Seni yang berorientasi kerakyatan itu diagendakan setiap tahun. Diadakan pertunjukan-pertunjukan dan kerajinan rakyat dari daerah sekitar Yogyakarta. Untuk pertunjukan rakyat dipentaskan srunthul dari Sleman, tayub Sleman, oglek Kulon Progo, reyog Bantul, dan srandul Gunung Kidul. Digelar kerajinan gerabah, lukisan kaca, anyaman bambu, rami dan sabut kelapa, kerajinan kulit kerang, dan batok kelapa. Sedangkan untuk makanan tradisional dijajakan masakan gudeg, soto, pecel, martabak, ronde, kopi, bajigur, bubur kacang ijo dan lain-lain.
Menurut Umar Kayam, yang waktu itu sebagai ketua panitia sekaligus pemrakarsa, acara itu berangkat dari banyaknya obyek kesenian dan kerajinan di Yogyakarta tapi kondisinya patut disayangkan karena “mendhelep” diganyang lingkungan yang berubah. Perlu dikaji banyaknya sebab yang menjelaskan mengapa begitu terpuruk keadaannya. Sedangkan di sisi lain ada jenis kerajinan yang berkembang naik, misalnya kerajinan perak dan batik. Ajang yang memberi kesempatan mereka untuk menampilkan diri waktu itu adalah sekaten yang hanya sekali setahun. Ia merenungkan, mengapa universitas sebagai “centre of intellect” tidak melakukan pembedahan akan ketimpangan sosial yang ada? Dengan Pasar Seni Rakyat itulah Umar Kayam mencoba memberi media terhadap mereka. Di sinilah populisme Umar Kayam ditunjukkan.
Kegiatan itu bukannya tanpa kritikan. Sitor Situmorang, tepatnya mengingatkan; “mudah-mudahan Pasar Seni ini bukan timbul secara latah dari tokoh yang akhir-akhir ini sering disebut dalam koran; Dr. Souma dari Libanon yang mendapat doktor honoris causa dari UGM yang mengatakan bahwa universitas harus bisa merasuki kehidupan rakyat miskin di pedesaan. Tokoh kedua adalah menristek Dr. Habibie yang mengatakan bahwa teknologi adalah kata lain dari ketrampilan”.
[28] Komentar Sitor Situmorang cukup beralasan, mengingat sikapnya yang selalu ingin menjaga jarak dengan pemerintah, khawatir kegiatan itu dimanipulasi oleh kepentingan politik pihak-pihak tertentu.
Pada masa kepemimpinannya, lembaga PSK UGM tergolong “ramai kegiatan”. Upaya lobyying Umar Kayam yang bagus mampu menarik banyak kerjasama dalam memberikan dana. Agaknya posisinya sebagai pejabat pemerintah pada awal kariernya, membuat ia banyak berhubungan dengan orang, sehingga memudahkan ia dalam mencari pendanaan untuk kegiatan-kegiatan di lembaga tersebut.
Dari uraian di atas tampak bahwa posisi Umar Kayam tidak terlepas dari sensibilty zamannya, yakni kandungan emosional suatu kurung sejarah. Ia mewakili optimisme Orde Baru dalam menghadapi era baru yang penuh harapan. Umar Kayam tidak mempedulikan “tengokan sejarah” antara Barat ataukah Timur, kebudayaan pop ataukah serius
[29], ia lebih memperhatikan sisi accessibility kebudayaan-kebudayaan tersebut terhadap masyarakat. Seakan mendengar “panggilan sejarah” yang menggema di lobang mulut Orde Baru, Umar Kayam berusaha bersikap luwes, lentur, adaptable, untuk membuat bidang garapnya itu “mapan” terlebih dahulu. Sekaligus berbeda dengan mainstream Orde Baru yang merasa phobia dengan kata rakyat yang identik dengan komunisme. Akan tetapi sejak saat itulah Umar Kayam mulai berada di pinggir kekuasaan Orba. Secara perlahan-lahan ia termarjinalkan, setelah beberapa lama berada di jantung kekuasaan, di pemerintahan Orde Baru.
D. Umar Kayam dan Pemikiran tentang Kebudayaan
Perhatian Umar Kayam di bidang kebudayaaan merupakan benang merah pemikiran yang terrefleksikan dalam berbagai karyanya, yakni transformasi kultural dari budaya agraris menuju modern. Ilmu (dan kebudayaan Indonesia) menurutnya, haruslah berangkat dari kotak-kotak kebudayaan dan bukan menuju kotak-kotak kebudayaan baru.
[30] Menghargai fenomena pluralisme dalam masyarakat Indonesia, untuk tidak menempatkannya sebagai kendala namun menjadi modal. Ilmu dengan demikian mempunyai kedekatan emosional, tidak hanya intelektual-objektif, dengan ilmuwannya. Pada sisi inilah, Umar Kayam tidak segan-segan mengabaikan batas-batas antara fakta dan fiksi, antara objektifitas dan subjektifitas. Sebagai ilmuwan sosial yang lintas disiplin, ia tidak terpaku pada metodologi karena lebih mengutamakan signifikansi fenomena yang ingin diuraikannya. Pejalan budaya atau cultural commuter adalah istilahnya untuk menjelaskan hal itu. Sebagaimana yang dikisahkan dalam bukunya, Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya.
[31]Dalam hal antara Barat dan Timur, Umar Kayam bukan menjadi “Sang Pemula”. Tarik-menarik antara “yang di sini” dan “yang di sana” sejak awal masa pergerakan nasional Indonesia telah marak. Bisa dirunut jejak-jejaknya dari “Polemik Kebudayaan” yang akar-akarnya dapat dilihat pada tahun 1930-an, antara Sutan Takdir Alisjahbana-Sanusi Pane dan kawan-kawan. Atau bahkan sejak masa sang Satria Tjipto Mangoenkoesoemo dengan Soetatmo Soerjokoesoemo, seorang panditho Jawa pada tahun 1918. Satu perdebatan yang berkisar antara “menoleh kebudayaan Barat” atau “berpijak pada kebudayaan sendiri”.
[32] Pada tahun 1960-an, “perdebatan besar” (sebagaimana disebut oleh Claire Holt) dalam merumuskan “kebudayaan nasional” itu terpolarisasi dalam dua kubu; antara yang beraliran realisme sosial dan humanisme universal. Pertikaian sengit terjadi di dunia seni, antara yang berada di kubu Lekra (kiri), BMKN (liberal kanan), dan LKN (nasionalis). Pertikaian yang lebih lunak terjadi di dua institusi kesenian, antara ASRI Yogyakarta dengan SSRI Bandung.
[33]Umar Kayam terkenal dengan teorinya tentang manusia Indonesia sebagai “pejalan budaya” (cultural commuter), yaitu sebagai orang yang bergerak secara ulang-alik dari tradisionalitas ke modernitas, dari desa menuju kota. Desa dengan penyangga komunitasnya di satu sisi melahirkan berbagai ekspresi kebudayaannya, demikian pula kota dengan penyangga masyarakatnya.
Transformasi kultural yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia menurut Umar Kayam berjalan secara evolutif, mengikuti prasyarat yang telah terpenuhi, sehingga tidak dapat tidak akan lahir dengan sendirinya. Tindakan yang dilakukan adalah mempersiapkan prasyarat itu. Lagi-lagi gagasan populisme Umar Kayam tampak di sini. Transformasi dari status masyarakat agraris menuju suatu negara industri modern haruslah bersifat terbuka melibatkan semua pihak.
“[…] adalah sulit untuk membayangkan suatu modernitas dengan sistem nilai feodal-beambtenstaat. Saya membayangkan apabila modernitas tercapai dengan sistem nilai semacam itu alangkah sewenang-wenang dan angkuh modernitas itu. […]dengan sistem yang tertutup alangkah akan kering dan sunyi”.
[34]Nilai-nilai sub kebudayaan (lokal) yang positif dibela oleh Umar Kayam untuk menggantikan nilai-nilai yang menjadi biang dari keterpenjaraan masyarakat Indonesia, dari kubangan kelampauan. Sub kebudayaan dibela dan yang dihantamnya adalah kebudayaan priyayi-Jawa.
[35] Dengan tegas ia menolak ketika pendidikan diarahkan hanya untuk menjadi pegawai, menjadi priyayi khususnya. Meski seorang pegawai, ia sendiri dalam kehidupan nyata berusaha sekuat tenaga tidak menjadi priyayi dalam penggambaran yang feodal. Bahkan Faruk HT tidak sependapat bila Umar Kayam disebut priyayi. Apa yang digambarkan olehnya dalam kolom-kolom di Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, dengan adanya Pak Ageng dan Rigen’s Cabinet tidak lebih difahami sebagai hubungan antara majikan dan pembantu (relasi kerja), bukan priyayi.
[36]Umar Kayam menyadari bahwa sistem nilai beambtenstaat sedemikian kukuh di tengah-tengah masyarakat. Di sini ia masih menghadapi keraguan tatkala menyangkut mekanismenya. Apakah unsur terpenting dari modernitas, yakni teknologi, terlebih dulu dibuka selebar-lebarnya, dan sambil jalan kebudayaan akan segera menyesuaikan, ataukah berlaku sebaliknya.
Menurut Mochtar Pabottingi, apa yang dipolemikkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Ki Hadjar Dewantara dan lainnya pada tahun 30-an, dan Muchtar Lubis serta Umar Kayam pada tahun 80-90-an,
merupakan pemborosan energi intelektual. Polemik yang tak berujung pangkal sehingga menjadi involutif. Polemik mereka mengandaikan kebudayaan yang koheren, keterpaduan, dan cenderung ke dalam. Padahal, menurut Pabottingi, kebudayaan adalah pola perilaku kolektif manusia yang tak pernah sepenuhnya terintegrasi, selalu diperbaharui dalam tawar menawar pemikiran, praktek dan interaksi sosial. Lebih tajam Pabottingi mengkritik bahwa paradigma semacam itu adalah serpihan-serpihan budaya kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda tidak membolehkan masyarakat bumiputera melihat dunia luar, sehingga yang tampak adalah kedalaman diri, inward looking, keterpaduan, koherensi dan keserasian. Padahal jauh sebelum itu, nusantara sebagai agregat telah berorientasi keluar, tempat persinggungan berbagai bangsa dan kepentingan. Bagaimana dengan transformasi masyarakat? Pabottingi dengan nada merendah mengatakan, bahwa mungkin hanya Tuhanlah yang mampu melakukannya.
[37] Selain beberapa hal di atas, karier Umar Kayam di bidang keilmuan dan kesenian demikian beragam. Ia menyelesaikan program doktoral pada tahun 1965 di Cornell University Ithaca, Amerika Serikat dalam bidang Sosiologi. Sebelumnya pada tahun 1961 ia mendapat tugas belajar di New York di University of New York serta berhasil meraih gelar dalam bidang pendidikan dan penerbitan (Master of Education).
[38] Dengan disertasinya berjudul Coordination Problems in Indonesian Community Development ia terkukuhkan sebagai ilmuwan sosial. Uniknya, beberapa karier yang ditempuhnya berada di jalur kesenian dan kebudayaan. Pada tahun 1966, dalam usianya yang masih muda ia menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film (Dirjen RTF) Departemen Penerangan RI (1966-1969) di Jakarta. Sebelum itu ia menjadi karyawan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1956-1959). Selepas Dirjen RTF ia menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta, merangkap Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1969-1972), dan Direktur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanuddin (1975-1976). Rektor Universitas Gadjah Mada, Dr Sukaji Ranuwiharjo SH, MA menghendakinya untuk “pulang kandang”, sehingga mengamanatinya, bersama Masri Singarimbun salah satunya, mendirikan Pusat Penelitian Kebudayaan UGM Yogyakarta pada tahun 1977. Umar Kayam diserahi tugas memimpin lembaga itu selama dua puluh tahun sampai 1997. Sedangkan Masri Singarimbun menjadi direktur Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM (1973-1983). Umar Kayam juga pernah menjadi Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (1984).
Pada dasarnya darah Umar Kayam adalah seorang guru. Jabatan-jabatan birokratis yang diembannya tidak melalaikannya untuk memenuhi panggilan tugas itu. Ia menjadi dosen UGM Yogyakarta (1977-1997) pada Fakultas Sastra. Kembalinya ke UGM merupakan panggilan ke kampung halaman, setelah ia melanglang buana ke berbagai daerah; dosen STF Driyarkara (1972), dosen luar biasa Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial UI (1970-1974) dan Fakultas Sastra UI (1974-1975), anggota Board of Trustees of International Institute of Communications, London (sejak 1969), senior Fellow di East-West Center, Honolulu, Hawaii (1973) dan Dosen Tamu Fulbright di Indonesian Studies Summer Institute, University of Wisconsin, Madison Amerika Serikat, (Juni-Agustus 1977).
Semasa menjadi dosen di UGM ia menampilkan dirinya secara khas. Dalam kenangan seorang muridnya, Faruk HT, Umar Kayam bila mengajar berperan sebagai inspirator. “Mengikuti istilah beliau; tugas seorang pengajar (dosen) itu memberi inspirasi, bukan mengajari. Jadi sebagai sumber inspirasi bukan sumber substansi pengetahuan. Substansi dicari sendiri oleh mahasiswa.
[39] Dalam menyampaikan kuliahnya Umar Kayam sering melalui cerita, berbagi pengalaman, dan humor-humor. Selain sebagai pengajar yang avwerking (berkesinambungan kerja) ia mempunyai ingatan yang tajam mengenai hal-hal di dalam buku mana yang menjadi referensinya. Aspek keakuratannya sama dengan yang menjadi ciri khas guru kebanggaannya, Purbatjaraka.
[40]Pada masa akhir (sekitar tahun 2000-2001), Umar Kayam masih sempat membimbing seorang mahasiswa untuk program doktoral yaitu Bakdi Soemanto. Karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan, Prof. Ibrahim Alfian dan Prof. Dr. R M. Sudharsono yang menjadi co-promotor lalu berinisiatif untuk menangani langsung kandidat doktor tersebut. Sewaktu keduanya besuk ke ruang ICU di mana Umar Kayam dirawat, ia sempat bertanya; “Gimana itu Bakdi?”. “Oh, itu sudah ada yang nangani”. “Ada yang nangani bagaimana, itukan bagian saya”. Ungkapan tersebut menunjukkan begitu tinggi tanggung jawabnya. Pada saat pengukuhan Doktor Bakdi Soemanto, Umar Kayam datang dengan duduk di kursi roda. Sebagai promotor ia memberi sambutan dengan kalimat yang tertatih-tatih: “E e e e e, sa sa sa ya ingin melihat Pak Bakdi menjadi doktor”. Mereka yang hadir menjadi terharu mendengar ucapan itu.
[41]Sebagai ilmuwan yang seniman (atau sebaliknya), Umar Kayam berperan baik sebagai fasilitator (ketika ia menjadi pejabat), memberi sumbangan pemikiran (terutama dengan karya tulis dan penelitiannya), sekaligus dalam bentuk keterlibatan langsung sebagai pelaku seni. Ambivalensi Umar Kayam hadir di sini. Antara ilmuwan dan seniman, penulis sastra (simbolisme) sekaligus sosiolog (fungsionalisme), budayawan kritis (peneliti) juga seorang partisipan budaya—Jawa—(tineliti).
[42] Layaknya seorang Semar yang setengah dewa dan separo manusia, ia bisa difahami berada pada posisi liminal, bisa juga dimaknai kemanunggalan. Liminalitas sebagai pengalaman dasar manusia yang ditandai dengan pelepasan kelampauan dan belum hadirnya kebaruan.
[43] Pemahaman akan kemanunggalan kiranya yang tepat. Pada tahun 1997 Umar Kayam telah berusia 65, memasuki purna tugas sebagai guru besar UGM. Menjadi pensiunan adalah cita-citanya dari kecil. Dalam usia itu secara simbolis ia diberi kenang-kenangan oleh Taman Budaya Yogyakarta berupa tokoh wayang Dewa Ruci.
[44] Apa maknanya? Kehadiran koleganya menjelaskan hal itu. Koesnadi Hardjasoemantri, Satjipto Rahardjo, Ami Priyono, Onghokham, YB Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Lance Castle, Arswendo Atmowiloto, Goenawan Mohammad, Masri Singarimbun, Aristides Katoppo, Herbert Feith, Eros Djarot, Chairul Umam, Niniek L Karim, Tommy F Awuy, Ashadi Siregar, GBPH Prabukusumo, dan GBPH Joyokusumo adalah kalangan seniman dan ilmuwan yang mengindikasikan manunggalnya Umar Kayam dalam kosmis keduanya.
[45]Delapan tahun sebelumnya, dalam pidato pengukuhan guru besar UGM, Umar Kayam secara lugas menyinggung aspek kemanunggalan tersebut. Konteksnya waktu itu adalah persoalan keilmuan. Ia mengakhiri pidato itu dengan mengajak berbincang dengan mahasiswa:
Maafkanlah. Guru-guru Anda, termasuk yang sekarang berdiri di hadapan Anda, adalah produk dari kurikulum yang terkotak. Dan guru-guru kami juga hasil dari produk yang terkotak pula. Jadi embah buyut kotak, melahirkan embah kotak, embah kotak melahirkan bapak kotak, bapak kotak melahirkan anak kotak, anak kotak melahirkan cucu kotak. Kotak, kotak, kotak, kotak, kotak. Justru karena Anda berada dalam kondisi dan situasi demikian dan berani lantang saya ingin menganjurkan dari balik mimbar ini agar Anda membebaskan diri melepaskan dari penjara ilmu kotak tersebut. Mulailah menyapa kawan-kawan Anda yang terkotak di dekat-dekat Anda.
[46]Bahaya kompartementialisasi ilmu telah jauh-jauh hari diingatkan oleh Umar Kayam. Suatu kenaifan berpikir yang lahir dari kebutuhan industri, mengkotak-kotakkan ilmu sesuai kebutuhan produksi dan pasar.
Pada akhirnya kemanunggalan Umar Kayam bisa dimaknai dalam beberapa hal; sebagai ilmuwan ia melakukan lintas batas ilmu-ilmu sosial, meski mempunyai kekurangan dalam hal politik (yang senanatiasa ditarik ke arah budaya). Sampai dengan tahun 1991, Umar Kayam senantiasa menyerukan untuk melakukan lintas batas itu. Dalam suatu kesempatan mengantar Simposium Ilmu-Ilmu Humaniora Fakultas Sastra UGM, 3-4 Maret 1991 sebagai rangkaian acara penghormatan Purna Bhakti Prof. Dra. Siti Baroroh Baried dan Prof. Dr. Sulastin Sutrisno, Umar Kayam menekankan pentingnya seorang sarjana memiliki wawasan “vertikal” maupun “horisontal”. Wawasan “vertikal” adalah wawasan yang mendalam dan reflektif masing-masing disiplin ilmu, sedangkan yang “horisontal” sebagai wawasan yang melebar, yang akan selalu berusaha mendudukkan relevansi bidangnya dengan rumpun disiplin ilmu lain.
[47] Sisi kemanunggalan yang lain adalah keberadaannya sebagai seniman-sastrawan yang simbolis dan imajinatif namun berkarakter sosiologis yang kuat, memenuhi sisi ilmuwannya. Tulisan dalam kolom-kolomnya sebagai media bertutur (ia selalu mengatakan bahwa tugas ilmuwan adalah berkisah kepada khalayak) menyapa pembaca dari serangkaian pengamatan dan penghayatannya terhadap kehidupan. Ambiguitas Umar Kayam sebagai teknokrat di satu sisi, dan cendekiawan di sisi yang lain adalah kondisi liminal, anomali yang serba sulit.
Pengertian cendekiawan ala Bendaian akan mengatakan bahwa Umar Kayam telah melakukan pengkhianatan, sejak ia berselingkuh dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak akan melepaskannya untuk bersejenak mengkritisi dirinya. Kekuasaan akan menciptakan logikanya sendiri untuk meng-excuse tindakannya. Seperti itu juga Umar Kayam dalam film Pengkhianatan G 30 S/ PKI. Namun Umar Kayam bukanlah sosok yang hanya terwakili dalam Soekarno-film tersebut. Agaknya juga, film tersebut telah menjelma menjadi sebuah wacana raksasa yang berada di luar perkiraan Umar Kayam, sebagai sesuatu yang unintended consequence!
[1] Jurnal Prosa, Jose Saramago: Ingatan, “Tidak”, Cinta, (Jakarta: Metafor, 2002), hlm. 163
[2] Wawancara dengan Rachmat Djoko Pradopo, Yogyakarta 21 Februari 2003
[3] Seno Gumira Ajidarma membahas cerpen Secangkir Kopi dan Sepotong Donat, yang menurutnya mencerminkan kekuatan suasana kisah dan cerpen yang paling siap menjadi cerita pendek. Lihat : Aprinus Salam (ed.), Op.Cit. hlm 213-223. Sedangkan Mochtar Pabottingi berani mencalonkan karya-karya sastra Umar Kayam untuk memperoleh hadiah Nobel Sastra. (Kompas, 2 Mei 2002).
[4] Selengkapnya dapat dilihat dalam, Faruk HT, “Seni Umar Kayam, dan Jaring Semiotik”, dalam Aprinus Salam (ed.), Op.Cit., hlm. viii-xviii
[5] Penilaian Darmanto Jatman yang disampaikan dalam “Reriungan Bersama Pak Kayam”, Griya KR, 26 Februari 2001. Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 28 Februari 2001.
[6] Wawancara, Yogyakarta 22 Pebruari 2004
[7] Menurut Cortazar, novel yang baik mengakhiri “pertandingan” dengan menang angka, sedangkan cerpen yang baik menang KO. Cerpen adalah kerutukan naratif yang bertubi-tubi, tanpa ampun, ditutup dengan kejutan yang menjotos kebiasaan maupun kejemuan secara telak, jitu. Dikutip dari; Goenawan Mohammad, Kenapa Menulis Cerita Pendek, dalam Kenedi Nurhan (ed.), Dua Tengkorak Kepala, Cerpen Pilihan KOMPAS 2000, (Jakarta: Penerbit Kompas, 2000), hlm XXXIV. Uniknya, cerpen Umar Kayam “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” ini berdiri di tengahnya. Karakter –kedua—tokoh dan suasana kisah disajikan secara bersamaan dengan konflik yang dihadapi keduanya, ringkas namun padat (anyandak siji angukup kabeh), tanpa mengakhirinya dengan jotosan yang telak, bahkan sebaliknya seakan “pertandingan belum usai”.
[8] Umar Kayam, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, (Jakarta: Pustaka Jaya 1972), hlm 7 dan 8
9 Wawancara dengan Faruk HT., pada 14 April 2003
[9] Penjelasan Wulan Anggraini, Yogyakarta, 22 Pebruari 2004
[10] Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Perlawanan, dalam Aprinus Salam (ed.), Umar Kayam dan Jaring Semiotik, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,1998), hlm. 5, dan dalam buku yang sama, Kuntowijoyo, Para Priyayi sebagai Novel Sejarah, hlm. 20.
[11] Chusnanto, Pencarian Akar dalam Falsafah Priyayi, dalam Kompas, Minggu, 28 Mei 2000
[12] Penjelasan Rooslina Hanoum dan lihat; Nirwan Dewanto, Senjakala Kebudayaan, (Yogyakarta: Bentang, 1996)
[13] Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983)
[14] Nirwan Ahmad Arsuka, Priyayi, Kerja, dan Sejarah, dalam Kompas, 7 April 2000
[15] Baca Saya Sasaki Shiraishi, Pahlawan-pahlawan Belia, Keluarga Indonesia dalam politik, (Jakarta: KPG, 2001).
[16] Umar Kayam, Para Priyayi, (Jakarta: Grafiti, 1992), hlm. 306-7 (garis bawah dari penulis, ANL)
[17] Umar Kayam, Transformasi Budaya Kita, naskah Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universiats Gadjah Mada, 19 Mei 1989.
[18] Umar Kayam, Kebudayaan Nasional, Kebudayaan Baru, dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kongres Kebudayaan 1991, Kebudayaan Nasional; Kini dan Masa Depan, (Himpunan Makalah II), (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan dan Jarahnitra, 1992/3), hlm. 456, (huruf tebal asli dari Umar Kayam).
[19] Faruk HT., “Pengantar, Dari Realisme Kultural ke Realisme Magis”, dalam Kenedi Nurhan (peny.), Umar Kayam, Lebaran di Karet, di Karet…, (Jakarta: Kompas, 2002), hlm. x-xi
[20] Kompas, Jakarta 24 Juni 1971
[21] Indonesia Raya, Jakarta 17 Juni 1971
[22] Berita Antara, 20 Februari 1973
[23] Dalam kopian dokumen yang penulis dapatkan, sayangnya tidak tercatat tanggal terbit media tersebut. Demi otensitasnya, dokumen tersebut akan dilampirkan.
[24] Sriwandi, Jakarta 28 Desember 1969
[25] Kompas, Jakarta 17 Juli 1976
[26] Arief Budiman, Ilmu-ilmu Sosial Indonesia A-Historis, Prisma, No. 6, Juni, 1983 diakses dari http://www.geocities.com/edicahy/ekopol/a-historis.html
[27] Wawancara dengan Faruk, HT. pada 14 April 2003.
[28] Gelora Mahasiswa, Surat kabar mahasiswa UGM. No. 3 tahun kelima, 5 November 1978.
[29] Istilah “pop” dan “serius” yang dilabelkan dalam kesenian / kesusasteraan Indonesia sebenarnya baru marak digunakan pada pertengahan tahun 1970-an. Dalam mengkaji novel Pop, Umar Kayam mencoba bersikap proporsional dengan mengajak melihat sisi “kemungkinan-kemungkinan” yang ditawarkan dalam sebuah karya. Kemungkinan-kemungkinan dalam penjelajahan bentuk dan isi (tekstual), maupun kemungkinan-kemungkinan dalam menjajakannya kepada masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana buku The Carpettebeggars karya Harold Robbins yang bersifat menghibur menjadi ber-hard cover sehingga cukup bergengsi dijajakan di toko-toko mewah. Sebaliknya novel-novel serius (dan piringan-piringan musik) dipopulerkan kepada masyarakat di dalam bis, kereta api, dan tempat-tempat umum. Dengan melihat kemungkinan-kemungkinan semacam itu, Umar Kayam tidak memberi penilaian bermutu pada sebuah novel serius, dan sepele atau kacangan pada novel pop. Untuk apa novel serius kalau tidak dibaca orang, sehingga fungsi kesusasteraannya tidak tersampaikan kepada masyarakat. Demikian pikirnya. Uraian ini didapatkan dari; Umar Kayam, Seni Tradisi, Masyarakat, (Jakarta: Sinar Harapan, 1981), hlm. 82-91
[30] Umar Kayam, “Sastra Kontekstual yang Bagaimana?”, dalam Ariel Heryanto (ed.), Perdebatan Sastra Kontekstual, (Jakarta : Rajawali, 1985), hlm. 236.
[31] Umar Kayam, Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya, (Jakarta: Gramedia, 1984)
[32] Takashi Shiraishi, “Satria” vs “Pandhita”, Sebuah Debat dalam Mencari Identitas, dalam Akira Nagazumi (peny.), Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang, Perubahan Sosial Ekonomi abad XIX & XX dan Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986), hlm. 158-187.
[33] Pembahasan mengenai hal ini dapat dibaca dalam Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, (Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999), hlm. 313-384.
[34] Umar Kayam, Transformasi Budaya Kita, naskah Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universiats Gadjah Mada, 19 Mei 1989.
[35] Dalam kehidupannya, Umar Kayam juga hendak meninggalkan kepriyayiannya. Bahkan ia seakan-akan “memutus” romantika Mangkunegaran, dengan keengganan menghadiri pertemuan-pertemuan HKMN (Himpunan Kerabat Mangkunegaran) yang bercabang di Yogyakarta. Alasan yang selalu dikemukakan adalah: “yang Mangkunegaran itu kan Bapak, bukan kami”. Wawancara dengan Umar Suwito, 12 Maret 2003.
[36] Wawancara dengan Faruk HT., pada 14 April 2003
[37] Diuraikan dalam Pidato Kebudayaan pada 3 Mei 2003, memperingati hari kelahiran Umar Kayam. Diadakan oleh Yayasan Seribu Kunang-Kunang di hotel Yogyakarta Plaza, Yogyakarta.
[38] Ibrahim, Muchtaruddin, dkk., Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan IV. Jakarta: CV. Ilham Bangun Karya. 1999, hlm. 175
[39] Wawancara dengan Faruk HT. tanggal 14 April 2003
[40] Wawancara dengan Siti Soendari, 23 April 2003
[41] Wawancara dengan R.M. Sudharsono, 18 April 2003
[42] Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, 13 Juli 1997
[43] Y.W. Wartaya Winangun, Masyarakat Bebas Struktur, Liminalitas dan Komunitas Menurut Victor Turner, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 39-40
[44] Dalam kosmologi Jawa kisah tentang Dewa Ruci adalah ajaran falsafah tentang bersatunya mikrokosmos dengan makrokosmos, antara jagad kasar dengan jagad alus, kemanunggalan yang mengatasi sekat-sekat bentuk. Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, Sebuah Analisis Filsafat tentang Kebijaksanaan Jawa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm. 114-117
[45] Yogya Post, Yogyakarta, 17 Juni 1997
[46] Umar Kayam, Transformasi Budaya Kita, Loc. cit. hlm. 37
[47] Umar Kayam, Tentang Fakultas Sastra, dalam majalah Basis edisi April 1991, hlm. 122-9