Mencintaimu Setengah Badan: Puisi-puisi Luthfi
PUISI-PUISI LUTHFI
Perutku butuh bahasa
Sampai kini aku belum terima
Kalau kemurunganku berkait dengan lembar kertas dalam dompet
Yang kusadarai adalah
Perutku mencercap sedang mulut tak berkata
Otakku sepi kalimat
Ya sudah, perutku butuh bahasa
Supaya aku tak lagi murung
Luthfi, 02-01-2004 12. 10 AM
tanggal satu bulan januari
Tahun, Tuhan, dan Hantu turut tunjukkan tarian,
tepuk-tepuk tangan
Tanggal takterjumpa
Tinggal teraju tua tiada tuas,
tali tertebas, terjatuh
Tandas
tiang tajuk itu………
terjuntai tilam tetirah
Luthfi, 01 - 01 – 2004, 23.55 WIB
NB: Entah harus menjadi orang macam apa kita?
BUKU PANDUAN ADVOKASI
Aku bersandar
dengan ballpoint dan buku di tangan
sesekali menerawang
menantang sinar matahari
“Ingin kupantulkan dalam seribu rumus”, gumamku
Di ruang tengah Emak sedang menghitung gabah
Hasil mertelu sawah
“Hujan berhari-hari kemarin menenggelamkan padi-padi kita, nak !”, keluhnya
Ia menghampiriku sesaat penggarap sawah berucap salam yang terantuk dahak
Masih dengan muka berselendang harap
Emak mengambil ballpoint yang masih termangu di tanganku
Kembali menggores-goreskan angka
Untuk mengganti beberapa karung gabah
yang sebentar lagi berpindah-pindah tangan
beralih, tentu, beberapa lembar di genggamanku
Berkali-kali Emak membalik lembar
masih tetap di buku itu
buku yang sebelumnya berkeringat di tanganku
dengan garis-garis merah yang menyunting pasal demi pasal
(Bangilan, 19 Desember 2001)
KUNANG-KUNANG DAN CODOT
Sayangku…..
silau kejora malam hatiku
Cukuplah dikau membingungkanku
dalam barisan permintaan ahistorismu
Setiapkali malam minggu menggantung
seribu bintang bersorak di ubun-ubun
Betapa tidak !
Kau selalu meminta kunang-kunang hadir
Selalu……
“Aku tak terlatih dalam kegelapan”, keluhmu
Meskipun penuh cemburu
kucari juga malaikat kecilmu itu
“Aduh manekin yang cantik
Apakah engkau juga merindukan kunang-kunang ?”
Cahaya tak terhitung telah membasahi
semoga menjadi malaikatmu, putusku
Lalu kutelusuri sungai yang tak lagi memantulkan wajah
Mengapa tak kucari di kuburan
bukankah kunang-kunang selalu menyertai malaikat pencabut nyawa
bercanda juga dengan Munkar Nakir ?
Lagi-lagi aku kecewa
Malaikat tak lagi suka nongkrong di
Mereka sibuk mengurus asuransi
dan berebut sertifikat tanah
“Kau capek sayang ?”
Ah, perempuan
Sejuta kali kau sebut kata “sayang”
tak kumengerti juga apa artinya
Begitu pula saat kau bilang “tidak”
Demikianlah
di malam yang penuh keringat itu
Kusesali ketuaanku
Tak lagi kutemukan kunang-kunang
di seperempat abad yang berdebu
Daun talas dengan setitik mutiara
Bibir sungai dengan lumpur berbasahmerekah
Telah diguratkan kisahnya
Bersama kunang-kunang
Yang kini………..
Telah dimangsa codot-codot pembangunan
(FIB-UGM, 23 April 2002)
SUARAKU TELAH MEMBATU
Sampai jua akhirnya
Engkau datang melepas terompah
“Kenapa tak Engkau basuh dahulu wajahmu yang letih ?”
Pancuran yang setia di halaman
tertahan alirkan kesejukan
Adindaku
Sewindu telah lampau
Masih kuingat tanganmu yang halus
menggelitiki perut dan otakku
Sesekali Engkau menyelakumisku
Beberapa helai marah tercabut
“Jangan kau sambut aku dengan tatapan masa lalu kita, kanda !”
Ah, ternyata kau masih sudi memanggilku kanda
Sementara
terik di luar menjerit
Dialah karib yang meminyakijenggotmu
barisanrambut yang dahulu sering kauimpikan
“Apa yang dapat kau pesembahkan kepadanya ?”
“Maafkan aku kanda
aku tak bisa menjawab jeritannya
Suaraku membatu
dan tanganku telah menebal
Karibku, terik, ikut pula menebalkan kantongku
Tapi………..
Bapak-bapak yang di gerbanggapura tadi
telah merampasnya
Maaf kanda……………”
“Adakah di rumah ini pancuran untuk berbagi kesejukan denganku ?”
(
PERMAINAN TELAH USAI ?
Setengah
Ketuk pintu terselip di balik kokok ayam dan dzikir
Masih basah bibir Bunda
untuk doa anak manja
Sinar pintu menemani wajah lesu
disongsong lembut embun di ketiak ibunda
Si janggut nyathis
begitu eyang putri sering mengudangnya
Ia menempel di atas kursi
Menggeliat, sekedar mempertegas letih
Mencari-cari jeda antara kedip mata Bunda
“Sekarang tunjukkan pada Bundamu oleh-oleh dari seberang
saat menggoda
“Tapi Bunda, bukankah manik-manik jagung yang kau suapkan
memang untuk membuat pori-poriku berlubangmenumpahkankekuatan
dan Bunda tak menghendaki manik-manik itu lagi bukan ?”. Tampak tergoncang ia
menjawab
Lalu membuka kardus usang dansegeratersembul keluh kesah yang tersumbat
Oleh kepura-puraan dan kemalasan
“Akankah kusodorkan ?”
“Anakku, tangis dan guncangjantungmu pernah terjatuh di sini
dan untuk kesekiankali engkau ingin menyulamnya
Ayolah nak, Bundamu kini ingin mendengar dendangninabobokmu dahulu”
Semuanya telah digilaswaktuditerjangpagidikulitimalam
hingga tergenang darah
Antarasyahwatdancukaderutrotoarasapmenggumpalbukuterjejalangka bergelojotansampah
termakan dan…….
bersama megaphone dan spanduk-spanduk berjalan mereka berubah
menjadi…………..mahasiswa
Hanya satu yang tak tergoda
Sayap-sayap kasih senantiasa memayungi
Tiada letih diterjang gas air mata
Selembut embun di ketiak Bunda
Mariamku……………
Lebarkan pintu ilmuku
Uang terkibaskan lalu
Formulir tertorehkan
Dan tinta menggores nama di kertas angka
Di
Setitik peluh menggumpal
Dari untaian sungai wajah
Wajah debu
Wajah lugu
Wajah haru
Saat pendidikan terlembagakan
Tak leluasa orang dapatkan
Bila tanah bila air
Bila semua-semua terisi udara
Apa yang membuat beda kita
Bila pendidikan untuk kau yang berpendidikan
Bila pengetahuan buatmu yang berkantong tebal
Mana yang tersuapi
Buatku yang kini kenyang cita
Dikau Imam Syafii
Tak lagi mudah kuziarahi petuahmu
Menjadi musafir penghamba ilmu
Terhempas tubuhku di balik pintu-pintu
Letih asaku
Meloncati palang dengan ruang-ruang palsu
Dan secarik kain seragamnya kini jadi azimat
Kuingin seperti dulu
Saat kusingsing senyum
Berlebar-lebar pintu para guru
(
Pelacurku
Sang pria menjulurkan kaki memasukkan ke sepatunya. Dasi yang tersangkut di samping
cermin melambai-lambai. Pintu sedikit terkuak
“Tahu perbedaan antara engkau dan aku?”, tanya sang pelacur setelah keringat berlelehan
menyatu dalam dengus nafas sorgawi
Seakan ia bertanya pada dirinya sendiri
“Kau punya penis dan aku punya vagina
Penismu lakukan sesuatu yang tak kau inginkan
Vaginaku bikin aku bekerja. Dengan ini aku kendalikan kau
dan penis-penis dalam masyarakat
Makanya aku punya kekuatan begitu besar
Kenapa dunia ini dijalankan orang-orang yang berpenis?”
“Aku tak tahu”, jawab si pria berotak belang
“Karena kami menyukainya, sangat menyukainya”, tegas sang pelacur
Engsel pintu berderit keras. Sepi. Menindih daun kayu yang beradu. Tinggal sejulur dasi
yang kian bergoyang. Jatuh
8 Romadlon 1424/ 3 November 2003
Kartini Sedang Mandi
Sebentar lama
Setelah jago cemani di pelataran berkokok
Air hangat mengucur gayung beradu
Dengan trengginas
Tangan manis terselimut gelembung-gelembung halus
Kartini menelusuri tubuhnya dalam genangan busa
Matanya tajam
Melipat harapan di keningnya
Ia menggelincirkan sabun di atas
dua gundukan kenyal menghimpit dada
Pagi yang elok
Saat babon blurik juga berkokok
Astaghfirullaahal’adziiim !!!
Gusti nyuwun pangapura !!!
Belum selesai sabun itu menunaikan ritualnya
sujud di selangkangan Kartini
Lajunya tiba-tiba tertahan oleh tonjolan
Membabibuta di sekujur tubuh perempuan itu
Ribuan batang penis yang sekian lama tersembunyi
Mengoyak setiap lobang keringat Kartini
Aaaaaahhhhhhkhkhkhkhhkhkhkhkhkh !!!!!
Pediiiiihhhh !!!
Aku tak kuat lagi Tuhaaaaan !!
Di lantai yang berlumut
dan sabun menjadi setipis silet
Kartini membiru dalam sejuta igauan
“Kapankah kumiliki tubuhku, payudara dan vaginaku
tanpa kau : Penis keparrraaatt !!!
yang selalu meminta darah
dengan luapan samudera pemaknaanmu”.
(Klebengan, 22 April 2003)
kulihat rembulan untukmu
buat: Anna
aku di sini
engkau di
rindu menelan melesak
sama-sama di kekinian malam
pohon beringinku di samping
sedang engkau di pelataran kubah entah
gelap mengirim rembulan
satu suara iringan megamega
merayap mengendap
di hamparan energi titik nolku di sini
energi titik nolmu di
menuju negeri laut yang minyak bara telah sirna
amarahpun tenggelam dalam masa
barangkali Tuhan enggan menoleh wajah
saat rembulan lupa sowan
ingatannya disandarkan di pelupuk mata
pada air yang bersayapsayap cahaya
menerpa deras wajah kita
dedaunku menindihkelindan
pada sisi-sisi kubah
agar tak jatuh dititik gravitasi
sebentar lama
menengadah
memohon rembulan jadi saksi
agar kita memampat masa
(
nenekku sakit
mulutmu tertatih
kapan kau datang?
lusa kemarin
Kering, hening
walaa yusiibannakum
walaa yusiibannakum
walaa yusiibannakum
kau bertegak di tepi kefanaan
kapan kau balik?
hari ini
pintu kubuka
air mata tak jadi berderit
(
iseng tak
iseng-iseng
kubaca berita
crash retrieval di
panci dibereskan, arloji dilipat tv dikarduskan
pegadaian, bukan rentenir plecit
kapan KKN-mu, nak?
aku tersedak
huruf-huruf koran bergetar, debar, retak
kukuh tak biarkan jatuh
dilipatnya dengan selipan uang
ayahku tiada iseng
di tepi kesadaran
ayah meniupkan suara di pikiranku
seakan mengabduksiku
(
ingatan siang
buat: Anna
sedih mempermalam ruang
menindastindas secuil senyum
coba nyalakan lampu
tersandung-antuk kenangan
dalam sejarah sesaat lalu
kemana jua cahaya
bila kuhanya temukan api?
kamarku tak ada warna, tak ada benda
lilin pupus api enggan mampus
membakar kertaskertas hangus
memperabu ingataningatan yang malaikatpun tak endus
tapi
kenapa masih ada
sisa api di hati
siang tadi
saat ucap bibirmu: kenapa tak kau dengarkan aku?
(
Erotika Sejenis
untuk seseorang yang entah
Dunia begitu muda, kasih
Kala rangkai katamu menggapai cinta
Sentuhanmu pada tubuh pula berupaya
Kau mendesah, kau mereguk, kau mendamba
Kita mendamba
Bukan caci bukan benci
Tapi tarian nirwana dan lagu manusia, cukuplah
Aku lelaki
Kau lelaki
Kita sama-sama suka
Kita sama-sama terpana pada semua
Suka yang datang dari entah
Cinta memabukkan kita untuk mengerti
Katakan pada semua orang
Tapi entah di mana mereka, entah di mana dunia
Aku menggugat
Mereka diam….
Tuhanpun diam…...
Aku sungguh tak mengerti
Aku hanya butuh difahami
Malam temanilah aku
Dunia begitu muda, kasih
Banyak benda belum bernama
Leluhur kita samar mengenal cinta kita
Bukan definisi bukan arti
Tapi cerita, bahwa kita ada (Klebengan, 7 Juni 2004)
Kau Tanya Kenapa
Sore itu usai juga cerita
kelelahanku telah melepuh bersama siraman air
kesegeran kumiliki, wewangian menyertai
Kau sambut aku di depan rumahmu
Kiranya dengan wajah penuh kelegaan
Segera kubertanya ada apa dengan kau
Saat kulihat ada sayu menggantungi wajah
Kau malah bertanya aku kenapa
Bertanya kau dan aku
Kenapa dengan kita
Kalimat keduamu tak lagi kumengerti
Kau berucap kumengingat
Mimpi semalam yang bertabur bintang
Pelukan dirimu memancar harap
Kuterbangun dengan sesungging senyum
Hanya semalam
Kekasihku……
Tak juga kumengerti dirimu
Gerak cukup sudah memberi arah
Jiwamu telah terbuka rekah
Namun diriku masih pula bisu
Hanya wewangian yang bisa kuandalkan
Entah untuk apa
Klebengan, 7 Juni 2004
Doa tentang Cinta
Kalau Kau perkenankan aku memilih Tuhan
Lebih baik bagiku
Tak teraliri darah
Di sekujur tubuh
Yang pamer warna merahnya di lipatan daging tipisku
Bukan pula keringat
yang bangga dengan rasa asinnya
meleleh di setiap lubang jarum poriku
Tak terberati oleh tengkorak
Isinya hanya ada nada subversi
Menimpa kaki-kaki lipanku
Karena cukuplah bagiku Tuhan
Kau anugerahi Cinta
Yang bilik-bilik jantung
Tak mampu menahan getar ombaknya
Biarkanlah ruang-ruang itu terisi Cinta
Mengganti kandungan maknanya
Darahku Kau rampas
Keringat dan otak biarlah Kau peras
Asalkan Cinta, ijinkanlah dalam pelukanku
Mengelus Ayam Jago
Pernahkah kau melihat ayam jago bertarung murka
Dengan membentangkan
menembus ke ujung
yang tampak bukan taji bukan darah bukan tahi
Hanya ada satu ketakutan melewati babak
Disambung taji dengan bilah tajam-runcing
Menerjang, menghardik, mencakar
Sakit itu bukan urusanku aku butuh darahmu
Aku hirup lukamu akan kupecahkan otak borokmu
Your fuck’in shit head!!!
Mana peradaban di situlah kau gantungkan nama
Samdi Samdi Samdi……..kau ayam jago
Tajam kau memecah kehampaan
Sorakan memecah kesunyian banjar
Bayi-bayi tak sempat menangis meminta makan
Pisang ambon untuk umpan, minyak kasturi mengkilatkan jambul dan ekor
Tekor tekor tekor……
Tahi Jago harum sewangi kemenyan
Kaki candi seperti cakar ayam
Diletakkan rapal doa dan apem persembahan
Bulu-bulumu halus merangsang
Membuatku melayang ke atas
Di antara mega dan lautan bintang
Menghunjam………….dalam seribusatu galaksi
Aku tak sadar
Masih terselip di antara dua sayapmu
20
Bilah karatan tak tahu siapa yang memasang
Jariku tergores
Gelap, gelap gelap…. menghantam kepalaku
Aku menggelepar perutku mengejan
Aaaaaaaaahhhhhh………
Tarian Jemariku
Dua minggu berbelit ujian
Apa yang kutimpakan?
Sembilan matakulaih menuntut makalah
setiap malam menjelang pagiku
adalah mata yang terbuka
dua jari manisku menjadi saksi sebuah ambisi
beasiswa, prestasi, ataupun behasiswi
belum lagi punggung yang telah bosan
menempel di kayu yang mati ini
kawin, kawin, kawin
kerja, kerja, kerja
entah apa lagi yang ingin disemburkan
setiap gugatan dari tubuhku
katakan, katakan, katakaaaaaannn……
berontak monitor komputerku tiba-tiba
dengan apa yang kau goreskan di tubuhku adalah kejujuran
perasan dari otak dan keringatmu
kata-kata dengan pelumas darah kalbumuuuuuu….
Manis
seribu manis bertubi-tubi
Pejamkan matamu setiap dua puluh menit
Barangkali,
kau bisa melanjutkan tarian jemarimu
Klebengan Depok Sleman,
16 Januari 2003. 04.35 WIB.
Ulang Tahun
untuk: Anna
Untuk kesekian kali
Dunia ini bukan milikmu
Lingkar bumi mencipta angka
Gulir surya berbuah nyawa
Ladang Pena
“Jangan ragu sayang”
“Jangan takut Maduku”
Tindas aku-mu genggam keAkuan
Kali ini nyawa bukan lagi angka
Tapi nafasmu
pada roh yang belum bernama
Tarian ronggengmu
Ayo gerak, ayo goyang
dunia mengejar, dunia mengejar
bukan pengibing dan suwelan
Kali ini nyawa bukan lagi nama
Memanggil-manggil tubuh yang bergelayut luka
Luka cinta, luka sukma, luka kata
Tahunmu meneteskan madu bumi
Pena mengukir cinta
Kisah dari negeri kampus
Inilah sebuah kisah
Dari panggung berundag
Bernama universitas
Setiap anak tangga adalah birokrasi
Tanpa stupa tiada sang Buddha
Mudah sangat kau kenali
Sudut-sudut mejanya adalah perintah
Priyagung nan botak kepala
Tak mengajariku
Tentang tetes air dan cinta
Melainkan
Administrasi
Yang menciptakan relitas
Di luar kenyataan sesungguhnya
Dunia hitung-menghitung
Dunia catat-mencatat
Dalam kerumitannya yang membuncah
Dunia…
yang kehilangan kekekalan kata-kata
Aku berkacak pinggang di sini
Di ruang gelap berdinding kertas
Tiba-tiba
Aksara berterbangan
Memilin mendengung dalam serombongan lebah
Menancapkan sengatnya di kepalaku...
Lebah di taman
Kau tak memberiku racun
Tapi madu
Dan kau lipatkan energiku
Aku berkacak pinggang di sini
Kutendang saja kertas-kertas itu
Kuinjak-injak dan kuhempaskan
Kedalam bak sampah
Kusiramkan minyak
Di atas keangkuhan titahnya
Jiwaku yang merdeka
Jiwaku yang kuasa
Peluh menyadarkanku
Dari guyuran ether kesarjanaan
Merayuku dalam tarian telanjang
Menggairahkan dunia dalam goyangan
Sajak
Sajak cinta
Kumasuki nirwana imajinasi
Kutelusuri syair-syair Sang Nabi
Ngawen Muntilan, 29 Mei 2005
Hikayat Sampan dan Perahu
sebilah dayung telah kau himpitkan di dada
segeralah kau ringankan langkah
memasuki sebuah sampan
dan kau tanggalkan satu perahu lain
di pelabuhan
lepaskan saja jeratan talinya
dan hempaskan tubuhmu
di buritan dengan nyaman
biarkan air danau itu berkecipak
mengintimi ayunan tanganmu
yang penuh kebocahan
yakinlah…
seseorang akan melepas sauh perahu
yang kau tanggalkan
untuk menjaring ikan
atau bersesapa di keramaian pasar lelang
jangan kau ragu
perahumu takkan berpusing
ditelan gelombang
jangan pula kau bimbang
sebuah sampan yang kau selonjori
akan memperkenalkanmu
pada hulu dan hilir
kau
mustahil berjumpa arah
bila satu kakimu menancap di geladak perahu timur
dan sejenjang lagi
kau gemulaikan di sampan yang berayun jenaka
Ngawen Muntilan, 29 Mei 2005
Mencintaimu setengah badan
Aku ingin mencintaimu setengah badan
Tanpa yoni per-indukan
Jalin jemalin dalam ritus agama
Upacara dengan Negara
Perayaan dengan pemilik corong hiburan
Dan pesta para pedagang yang menjaja khayalan
Cukup kau kerling mata
yang tulus
Senyum simpulmu yang bergingsul
Sebentuk bibir ara yang merekah
Rambut menjuntai hitam mengembang
Wajah cerah lembut nan cerdas
Leher putih berjenjang
Di kudukmu kutemukan setitik tahi lalat yang menggoda
Hatiku tertawa
Seperti Siddhartha bertemu Gotama
Ingin kucium keningmu
(
Jatuh Cinta
Kini
Aku mengenal satu kata; ketidakpastian
Setakik azimat yang tak diketahui oleh Tuhan
Ketidakpastian adalah saudara kandung kebingungan
Oleh orang-orang pintar disebut filsafat
Oleh sastrawan dinamai kelainan
Kadangkala juga tersemat label cinta
Yang tak lagi tunggal
Ya sudah
Kuikhlaskan saja ia
Memagut hatiku
Seperti lepra yang membonggoli
tungkai tangan dan kaki
atau kerayap bakteri diare di negeri tropis ini
pagi kedelai
sore menjadi
Kurelakan semua
Tanpa tangis kanak-kanak
Kulipat kini
Suara-suara tua yang berucap lirih:”kalau dulu….”
Atau janda
bergulung isak yang tertahan
Di tepi kali Blongkeng aku menatapmu
Cempaka Emas bertetangga Carrefour
Seperti symbol lingga
Mencakar-cakar langit bermega lelah
Menelanku di liatan peradaban kerja
Cahayaku jauh di daratan
Menyeret kenangan di kali itu
Dan lelampauan kini hadir kembali
Tilas persenggamaan itu begitu kental
Cantik
Air bertemu air
Cinta bertemu cinta
Bershaf-shaf kita menggaris kehijauan sawah
Burung-burung belibis bercericap
Tak ada laku birahi di
Rerumputan bergoyang
lumut merapuh batu
Keong berjalan
Senja memerah
Embun menaiki angin
Padi menundukkan biji
Begitu indah di mata kanak-kanak kita
Tanpa berpusing mencari makna di baliknya
Kita bukan manusia deduksi
Yang khusyuk bersimpuh di bawah ajaran dan kata-kata
Mari bermain di kali
Sempurnakan sorak-sorai
Tuhan sedang berpesta kebun!
Beri aku setangkup kerikil sungaimu
Kecipak mineral yang menyapu wajahmu
Kita hancurkan teori palsu
Kita basuh omong-kosong lalu
Di tepi kali blongkeng aku menatapmu
Bermandi darah bahagia
Kau belajar berrenang
Goyang-goyangkan kaki
Bagai ikan duyung dijaring buih
Sesekali menyelam
Menemukan sosok di kegelapan
Jantungmu tersentak ngilu
Kau masih menyimpannya
Mata menghunjam mata
Di tepi kali blongkeng aku menatapmu
Kau hadir di
Tanpa tujuan
Tenggelamkan diri dalam benda-benda
Begitu saja
Di tepi kali blongkeng aku menatapmu
Melingkarkan tangan
Merangkul leher nadi kebebasan
Canda tawamu bukanlah hiburan
Tapi kehidupan itu sendiri
Kali blongkeng setia mengalir waktu
Demikianlah lakon di bumi ini
Setiap orang mengambil
Setiap orang memberi
Tilas persetubuhan itu bertambah jelas
Cantik
Hingga jiwa bertemu jiwa
Tirta berjumpa nirwana
Di tepi kali blongkeng aku ingin
Menatapmu
Lagi
Jakarta-Bogor, 9 Juli 2005
Dunia yang kuimpikan
Sepetak rumah kecil
Berlabur biru
kuning tak mengapa
Berpagar putih
Besi-besi langsing
Tanpa khrom
Kilatnya
Biarlah dari lampu gantung
Di atas pintu
Di sore yang ranum
Pohon jambu berkarib lincak
Kumanjakan diri
Dua tumpuk buku
Segelas teh hangat
Bukan kopi bukan cerutu
Membaca
Lalu menulis, mendengar, tertawa-tawa
Sesekali kucing mengeong
Cicak memercap
Bercinta kejar mengejar
Di ruang belakang
Istriku takzim menggeser-geser mouse
Rumput menghijau
Layak lapang golf
Bunga cocor bebek menyaring embun
Pohon palem setinggi bandulan
Pancuran tiada lalai gemericik
Menaklukkan hatiku semau-maunya
Aku menyerah
Di senandung rumah kecilku
Di sini
Mengelap-elap hatiku
Yang siang tadi dibalut
Comberan bis yang menderu
Tanah Sareal, 8 Juli 2005
Cempaka Putih
Pernahkah kau mendengar suara dari ketinggian
Adzan seakan menyerap mega-mega
Aku tak menyimaknya
Namun
Selaksa ikut menggemakannya
Dari ketinggian kembar Cempaka Emas
Jalan tol Kemayoran yang melintang
Memantul-mantulkan ajakan suci
Dari not-not pemujaan
Menuju irama penegasan Ilahi
Angin menderas
Mengayun-ayunkan mata
mata kalbu mata layu mata rantai mata mata
Jakartaku kali ini
Kau panggil aku Upi’
Mengingatkanku pada simbah
Yang sering mencuci popokku
Di kampung Lancar ini
Orang-orang bergegas
Bersitatappun entah sempat
Sia-sia juga pamer lipstik dan kaos ketat menggunduk
Rumah putih di persimpangan
Dicandai oleh majikan dan pembantu
Antara Makkah, Roma, atau Palestina
Bersatu dalam titik meja makan
Berbagi piring dan mengorek sambal
Meski amis daging giling
Kolam lele yang pekat
Serum beralkohol dan serbuk obat
Besi-besi tua berkarat
Kucium bau orang-orang bekerja
Jakartaku kali ini
Harum cempaka terhirup di sini
Kemayoran, 02 Juli 2005
Setan Nunggang Sedan
Anak-anak
Hari ini masih pelajaran sejarah kolonial
Tutup saja bukumu
Atau robek saja kertasnya
Toh, milik perpustakaan tidak untuk diperdagangkan
Sejanak kita berjalan-jalan di keramaian
Tapi, jangan kalian bawa penggaris logam
Atau ikat pinggang gerinda
Sluman slumun jumpalitan
Zamane zaman sedan
Yen ra sedan ora keduman
Tuhan dan setan berjabat tangan
Merapal undang-undang
Melembur peraturan
Atas nama kesucian dan keindahan
Di bawah ikon peradaban mesum pariwisata
Kemana lagi mereka melepas lelah
Menyenggamai istri seperempat malam saja
Mengeloni cinta secukupnya
Bukan gincu atau parfum
Sekadar membebas erangan, cukuplah
Atau bermain gaple
Menyentakkan lembaran cemban
Mereka bukan Yudisthira yang dipuja
Mempertaruhkan kerajaan
Atau istana hutan
Mereka hanya punya gubuk kardus
Tikus kecoa enggan berkakus
Anak-anak
Ayo, kita intip sejenak
Tak usah kalian catat di kertas
Lebih baik kau berikan pada mereka
untuk menambal dinding rumah atau menyalakan api dapur
Kang…
Kalau kau sudah birahi
Perkosa saja istri setan
Sekalian…
Kau bikin Tuhan dan Iblis marah
Jangan lupa
Ambilkan aku celana dalamnya
Punyaku sudah jamuran
Ya, tapi...
Kemana kutemukan setan
Mereka suka dandan di hotel
Ketimbang nongkrong di pemakaman
Tanah Sareal, 8 Juli 2005
Kotak Warisan
Berbungkus kain belacu tua
Belum kenal pewarna
Hanya nila atau indigo warisan Belanda
Berserat laba-laba
Sekuat galih ekor kuda
Di liang peradaban keluarga
Lampau kini dan esok berjumpa
Merapal doa mendupa puja-puja
Sesaji
Dari lumbung-lumbung ketulusan
Saling berbagi kisah dan canda
Kotak warisan dibuka
Secarik aksara ditelan debu
Mata telanjang tak sanggup menyerbu
Lalu
Mamak-mamak mengurai mata
Bocah montok
“Hei, seperti kain kaku bekas ingusku!”
Tanpa aba mereka terpingkal
Tanpa komando mereka terdiam
Ini hanya coretan ringan
Jadwal memandikan si Rojempang
Bukan asmaradana
Raja dan permaisuri kita
Perjumpaan dua insan bisa dicatat
Bebukitan dan udara bisa menjelma sejarah
Tapi sejak kapan
Kaum bijak bisa menulis
dalam bilangan tempo
Dua hati yang bertaut?
Kotak itu mewariskan kebersamaan
Tanah Sareal,
Siapa bilang lagu-lagu nasional bercitra militeristik
Bagi Mardiyah
Lagu-lagu itu menghibur
Pembantu di rumah kakakku
Gadis Sunda usia 15 puasa
Ia tak kenal dwifungsi ABRI
Apalagi fasih berteriak: “kembalikan militer ke barak!”
Dikaguminya tentara
Berdiri gagah dan memegang senjata
Yang membungkuk badan mencium tangan ibunya
Siapa bilang lagu-lagu nasional
dengan tarikan nafas nasionalisme
Mardiyah belajar menyanyikannya semasa SD
Bergedung tembok retak
Genteng menetes air dan cahaya
Roboh enggan tegak tak mampu
Lagu-lagu memberi canda tawa
Ibu guru mengajarkan
Mengulang-ulang syairnya
Sesekali meludah dan membuang dahak
Namun lebih khusyuk membetulkan rok dan BH-nya
Siapa bilang lagu Indonesia Raya
dimakzulkan dengan kepala mendongak
Tangan ditangkupkan ke samping
Seperti duda mengigil dingin
Mardiyah mendendangkannya
Sambil mencuci piring
dan mengepel lantai basah kencing
Tanah Sareal, 8 Juli 2005
Rumah Batin
Kau singgahi rumahku
sebentar saja
Belum sempat kau buka tirainya
Sejenak mengintip tilam untuk tetirah
Kau beruluk salam di halaman
Aku menjawab perlahan
Sebagai sesal kesombonganku semalam
Kita saling menahan
Di lincak itu
Gelap memberi keintiman
Kita tak saling berhadapan
Hanya bersebelahan
Angin mengalir pelan
Tak ada selembar daun di pundakmu
Agar aku bisa membersihkan
Di depan pohon kelapa
Batangnya, pelepahnya, nyiurnya
Bilahan bambu yang kita duduki mengkeriyut
Menyambut tawa
Menangkap detail-detail cerita
Seorang gadis manis rambut sebahu
Belasan tahun
Tak menyerahkan tangis pada anjing tetangga
Sepatu kanannya terkoyak
Menemukan gantinya
Sama-sama kiri
Tapi tak mengapa
Toh masih bagus dan berwarna
Bersama teman, aku akan bernyanyi
Mereka takkan melihat ayunan kakiku
Keberanian nan nakal menyergap
Sepanjang jalan mulut mungil bersenandung
Melonjak-lonjak
Menyapa pagi
Menundukkan muka pada mentari
Senja hari
Mematut-matutkan diri di muka cermin
Segumpal iman mengeram
“Kuhias rambutku dengan jilbab”, putusnya
Dibongkar-hamburkan lemari sang mama
Hanya ada taplak meja
Meski bordir dan lecikpun bukan
36
Ditemukannya wajah yang anggun
Baru sehari rok panjangnya dijulurkan
Melilit pinggulnya yang mengembang
Ujung-ujungnya yang berkanji menjadi kaku
Oleh rumput yang basah
Kali pertama tersisip rasa aneh
Berangkat ia menuju sekolah
Melewati jembatan
Di bawahnya penuh ikan
Mujahir, mungkin juga emas atau pula nila
Ia hanya memandang
Enggan menamai
Dari kejauhan
Tanah yang berbukit
Keindahan meluluhkan segala
Hanya satu kemirisan
Rumah sakit putih di seberang
Cat terkelupas, genteng berderak, tembok terlarak
Tak mengapa, lagi-lagi
Aku akan berjumpa kawan
Pergi ke perpustakaan
Dan menorehkan nama di daftar peminjaman
Ia
Gadis mungil bernama mungil
Bersicepat-kebat
Supaya lekas tumbuh dewasa
Gadis mungil bernama mungil
Kini menggelar pelaminan
Di rumah batinnya
Meramaikan dunia para pangeran
Yang menggigit kesunyiannya masing-masing
Gadis mungil tak lagi mungil
Nama, tubuh, dan jiwanya
Menggedor-gedor pintu rumahku
(

2 Comments:
senang aku membacanya... sepertinya sensitifitas penulis sangat tajam, hal ini terlihat dari refleksi containtnya..
thanx
wah, sayang sekali blog-ku ini kelupaan pasword-nya, jadi dah beabad2 nggak di up-date. sekarang pindah di:
ahmadnashihluthfi.blogspot.com
Post a Comment
<< Home