Tuesday, March 14, 2006

Mencintaimu Setengah Badan: Puisi-puisi Luthfi

PUISI-PUISI LUTHFI

Perutku butuh bahasa

Sampai kini aku belum terima

Kalau kemurunganku berkait dengan lembar kertas dalam dompet

Yang kusadarai adalah

Perutku mencercap sedang mulut tak berkata

Otakku sepi kalimat

Ya sudah, perutku butuh bahasa

Supaya aku tak lagi murung

Luthfi, 02-01-2004 12. 10 AM

tanggal satu bulan januari

Tahun, Tuhan, dan Hantu turut tunjukkan tarian,

tepuk-tepuk tangan

Tanggal takterjumpa

Tinggal teraju tua tiada tuas,

tali tertebas, terjatuh

Tandas

tiang tajuk itu………

terjuntai tilam tetirah

Luthfi, 01 - 01 – 2004, 23.55 WIB

NB: Entah harus menjadi orang macam apa kita?

BUKU PANDUAN ADVOKASI

Aku bersandar

dengan ballpoint dan buku di tangan

sesekali menerawang

menantang sinar matahari

“Ingin kupantulkan dalam seribu rumus”, gumamku

Di ruang tengah Emak sedang menghitung gabah

Hasil mertelu sawah

“Hujan berhari-hari kemarin menenggelamkan padi-padi kita, nak !”, keluhnya

Ia menghampiriku sesaat penggarap sawah berucap salam yang terantuk dahak

Masih dengan muka berselendang harap

Emak mengambil ballpoint yang masih termangu di tanganku

Kembali menggores-goreskan angka

Untuk mengganti beberapa karung gabah

yang sebentar lagi berpindah-pindah tangan

beralih, tentu, beberapa lembar di genggamanku

Berkali-kali Emak membalik lembar

masih tetap di buku itu

buku yang sebelumnya berkeringat di tanganku

dengan garis-garis merah yang menyunting pasal demi pasal

(Bangilan, 19 Desember 2001)

KUNANG-KUNANG DAN CODOT

Sayangku…..

silau kejora malam hatiku

Cukuplah dikau membingungkanku

dalam barisan permintaan ahistorismu

Setiapkali malam minggu menggantung

seribu bintang bersorak di ubun-ubun

Betapa tidak !

Kau selalu meminta kunang-kunang hadir

Selalu……

“Aku tak terlatih dalam kegelapan”, keluhmu

Meskipun penuh cemburu

kucari juga malaikat kecilmu itu

“Aduh manekin yang cantik

Apakah engkau juga merindukan kunang-kunang ?”

Cahaya tak terhitung telah membasahi

semoga menjadi malaikatmu, putusku

Lalu kutelusuri sungai yang tak lagi memantulkan wajah

Mengapa tak kucari di kuburan

bukankah kunang-kunang selalu menyertai malaikat pencabut nyawa

bercanda juga dengan Munkar Nakir ?

Lagi-lagi aku kecewa

Malaikat tak lagi suka nongkrong di sana

Mereka sibuk mengurus asuransi

dan berebut sertifikat tanah

“Kau capek sayang ?”

Ah, perempuan

Sejuta kali kau sebut kata “sayang”

tak kumengerti juga apa artinya

Begitu pula saat kau bilang “tidak”

Demikianlah

di malam yang penuh keringat itu

Kusesali ketuaanku

Tak lagi kutemukan kunang-kunang

di seperempat abad yang berdebu

Daun talas dengan setitik mutiara

Bibir sungai dengan lumpur berbasahmerekah

Telah diguratkan kisahnya

Bersama kunang-kunang

Yang kini………..

Telah dimangsa codot-codot pembangunan

(FIB-UGM, 23 April 2002)

SUARAKU TELAH MEMBATU

Sampai jua akhirnya

Engkau datang melepas terompah

“Kenapa tak Engkau basuh dahulu wajahmu yang letih ?”

Pancuran yang setia di halaman

tertahan alirkan kesejukan

Adindaku

Sewindu telah lampau

Masih kuingat tanganmu yang halus

menggelitiki perut dan otakku

Sesekali Engkau menyelakumisku

Beberapa helai marah tercabut

“Jangan kau sambut aku dengan tatapan masa lalu kita, kanda !”

Ah, ternyata kau masih sudi memanggilku kanda

Sementara

terik di luar menjerit

Dialah karib yang meminyakijenggotmu

barisanrambut yang dahulu sering kauimpikan

“Apa yang dapat kau pesembahkan kepadanya ?”

“Maafkan aku kanda

aku tak bisa menjawab jeritannya

Suaraku membatu

dan tanganku telah menebal

Karibku, terik, ikut pula menebalkan kantongku

Tapi………..

Bapak-bapak yang di gerbanggapura tadi

telah merampasnya

Maaf kanda……………”

“Adakah di rumah ini pancuran untuk berbagi kesejukan denganku ?”

(Yogyakarta, 24 Juli 2002)

PERMAINAN TELAH USAI ?

Setengah lima pagi

Ketuk pintu terselip di balik kokok ayam dan dzikir

Masih basah bibir Bunda

untuk doa anak manja

Sinar pintu menemani wajah lesu

disongsong lembut embun di ketiak ibunda

Si janggut nyathis

begitu eyang putri sering mengudangnya

Ia menempel di atas kursi

Menggeliat, sekedar mempertegas letih

Mencari-cari jeda antara kedip mata Bunda

“Sekarang tunjukkan pada Bundamu oleh-oleh dari seberang sana !”, tergerai tangan Bunda

saat menggoda

“Tapi Bunda, bukankah manik-manik jagung yang kau suapkan

memang untuk membuat pori-poriku berlubangmenumpahkankekuatan

dan Bunda tak menghendaki manik-manik itu lagi bukan ?”. Tampak tergoncang ia

menjawab

Lalu membuka kardus usang dansegeratersembul keluh kesah yang tersumbat

Oleh kepura-puraan dan kemalasan

“Akankah kusodorkan ?”

“Anakku, tangis dan guncangjantungmu pernah terjatuh di sini

dan untuk kesekiankali engkau ingin menyulamnya

Ayolah nak, Bundamu kini ingin mendengar dendangninabobokmu dahulu”

Semuanya telah digilaswaktuditerjangpagidikulitimalam

hingga tergenang darah

Antarasyahwatdancukaderutrotoarasapmenggumpalbukuterjejalangka bergelojotansampah

termakan dan…….

bersama megaphone dan spanduk-spanduk berjalan mereka berubah

menjadi…………..mahasiswa

Hanya satu yang tak tergoda

Sayap-sayap kasih senantiasa memayungi

Tiada letih diterjang gas air mata

Selembut embun di ketiak Bunda

Mariamku……………

Yogyakarta, 19 April 2001

Lebarkan pintu ilmuku

Uang terkibaskan lalu

Formulir tertorehkan

Dan tinta menggores nama di kertas angka

Di sana

Setitik peluh menggumpal

Dari untaian sungai wajah

Wajah debu

Wajah lugu

Wajah haru

Saat pendidikan terlembagakan

Tak leluasa orang dapatkan

Bila tanah bila air

Bila semua-semua terisi udara

Apa yang membuat beda kita

Bila pendidikan untuk kau yang berpendidikan

Bila pengetahuan buatmu yang berkantong tebal

Mana yang tersuapi

Buatku yang kini kenyang cita

Dikau Imam Syafii

Tak lagi mudah kuziarahi petuahmu

Menjadi musafir penghamba ilmu

Terhempas tubuhku di balik pintu-pintu

Letih asaku

Meloncati palang dengan ruang-ruang palsu

Dan secarik kain seragamnya kini jadi azimat

Kuingin seperti dulu

Saat kusingsing senyum

Berlebar-lebar pintu para guru

(Yogyakarta, 30 Juli 2003)

Pelacurku

Sang pria menjulurkan kaki memasukkan ke sepatunya. Dasi yang tersangkut di samping

cermin melambai-lambai. Pintu sedikit terkuak

“Tahu perbedaan antara engkau dan aku?”, tanya sang pelacur setelah keringat berlelehan

menyatu dalam dengus nafas sorgawi

Seakan ia bertanya pada dirinya sendiri

“Kau punya penis dan aku punya vagina

Penismu lakukan sesuatu yang tak kau inginkan

Vaginaku bikin aku bekerja. Dengan ini aku kendalikan kau

dan penis-penis dalam masyarakat

Makanya aku punya kekuatan begitu besar

Kenapa dunia ini dijalankan orang-orang yang berpenis?”

“Aku tak tahu”, jawab si pria berotak belang

“Karena kami menyukainya, sangat menyukainya”, tegas sang pelacur

Engsel pintu berderit keras. Sepi. Menindih daun kayu yang beradu. Tinggal sejulur dasi

yang kian bergoyang. Jatuh

8 Romadlon 1424/ 3 November 2003

Kartini Sedang Mandi

Sebentar lama

Setelah jago cemani di pelataran berkokok

Air hangat mengucur gayung beradu

Dengan trengginas

Tangan manis terselimut gelembung-gelembung halus

Kartini menelusuri tubuhnya dalam genangan busa

Matanya tajam

Melipat harapan di keningnya

Ia menggelincirkan sabun di atas

dua gundukan kenyal menghimpit dada

Pagi yang elok

Saat babon blurik juga berkokok

Astaghfirullaahal’adziiim !!!

Gusti nyuwun pangapura !!!

Belum selesai sabun itu menunaikan ritualnya

sujud di selangkangan Kartini

Lajunya tiba-tiba tertahan oleh tonjolan

Membabibuta di sekujur tubuh perempuan itu

Ribuan batang penis yang sekian lama tersembunyi

Mengoyak setiap lobang keringat Kartini

Aaaaaahhhhhhkhkhkhkhhkhkhkhkhkh !!!!!

Pediiiiihhhh !!!

Aku tak kuat lagi Tuhaaaaan !!

Di lantai yang berlumut

dan sabun menjadi setipis silet

Kartini membiru dalam sejuta igauan

“Kapankah kumiliki tubuhku, payudara dan vaginaku

tanpa kau : Penis keparrraaatt !!!

yang selalu meminta darah

dengan luapan samudera pemaknaanmu”.

(Klebengan, 22 April 2003)

kulihat rembulan untukmu

buat: Anna

aku di sini

engkau di sana

rindu menelan melesak

sama-sama di kekinian malam

pohon beringinku di samping

sedang engkau di pelataran kubah entah

gelap mengirim rembulan

satu suara iringan megamega

merayap mengendap

di hamparan energi titik nolku di sini

energi titik nolmu di sana

menuju negeri laut yang minyak bara telah sirna

amarahpun tenggelam dalam masa

barangkali Tuhan enggan menoleh wajah

saat rembulan lupa sowan

ingatannya disandarkan di pelupuk mata

pada air yang bersayapsayap cahaya

menerpa deras wajah kita

dedaunku menindihkelindan

pada sisi-sisi kubah

agar tak jatuh dititik gravitasi

sebentar lama

menengadah

memohon rembulan jadi saksi

agar kita memampat masa

(Yogyakarta, 26 Januari 2005, 01.15 WIB)

nenekku sakit

mulutmu tertatih

kapan kau datang?

lusa kemarin

Kering, hening

walaa yusiibannakum

walaa yusiibannakum

walaa yusiibannakum

kau bertegak di tepi kefanaan

kapan kau balik?

hari ini

pintu kubuka

air mata tak jadi berderit

(Yogyakarta, 26-01-2005, 01.45 WIB)

iseng tak

iseng-iseng

kubaca berita

crash retrieval di Namibia

panci dibereskan, arloji dilipat tv dikarduskan

pegadaian, bukan rentenir plecit

kapan KKN-mu, nak?

aku tersedak

huruf-huruf koran bergetar, debar, retak

kukuh tak biarkan jatuh

dilipatnya dengan selipan uang

ayahku tiada iseng

di tepi kesadaran

ayah meniupkan suara di pikiranku

seakan mengabduksiku

(Yogyakarta, 26-01-2005, 02.11 WIB)

ingatan siang

buat: Anna

sedih mempermalam ruang

menindastindas secuil senyum

coba nyalakan lampu

tersandung-antuk kenangan

dalam sejarah sesaat lalu

kemana jua cahaya

bila kuhanya temukan api?

kamarku tak ada warna, tak ada benda

lilin pupus api enggan mampus

membakar kertaskertas hangus

memperabu ingataningatan yang malaikatpun tak endus

tapi

kenapa masih ada

sisa api di hati

siang tadi

saat ucap bibirmu: kenapa tak kau dengarkan aku?

(Yogyakarta, 26-01-2005, 01.25 WIB)

Erotika Sejenis

untuk seseorang yang entah

Dunia begitu muda, kasih

Kala rangkai katamu menggapai cinta

Sentuhanmu pada tubuh pula berupaya

Kau mendesah, kau mereguk, kau mendamba

Kita mendamba

Bukan caci bukan benci

Tapi tarian nirwana dan lagu manusia, cukuplah

Aku lelaki

Kau lelaki

Kita sama-sama suka

Kita sama-sama terpana pada semua

Suka yang datang dari entah

Cinta memabukkan kita untuk mengerti

Katakan pada semua orang

Tapi entah di mana mereka, entah di mana dunia

Aku menggugat

Mereka diam….

Tuhanpun diam…...

Aku sungguh tak mengerti

Aku hanya butuh difahami

Malam temanilah aku

Dunia begitu muda, kasih

Banyak benda belum bernama

Leluhur kita samar mengenal cinta kita

Bukan definisi bukan arti

Tapi cerita, bahwa kita ada (Klebengan, 7 Juni 2004)

Kau Tanya Kenapa

Sore itu usai juga cerita

kelelahanku telah melepuh bersama siraman air

kesegeran kumiliki, wewangian menyertai

Kau sambut aku di depan rumahmu

Kiranya dengan wajah penuh kelegaan

Segera kubertanya ada apa dengan kau

Saat kulihat ada sayu menggantungi wajah

Kau malah bertanya aku kenapa

Bertanya kau dan aku

Kenapa dengan kita

Kalimat keduamu tak lagi kumengerti

Kau berucap kumengingat

Mimpi semalam yang bertabur bintang

Pelukan dirimu memancar harap

Kuterbangun dengan sesungging senyum

Hanya semalam

Kekasihku……

Tak juga kumengerti dirimu

Gerak cukup sudah memberi arah

Jiwamu telah terbuka rekah

Namun diriku masih pula bisu

Hanya wewangian yang bisa kuandalkan

Entah untuk apa

Klebengan, 7 Juni 2004

Doa tentang Cinta

Kalau Kau perkenankan aku memilih Tuhan

Lebih baik bagiku

Tak teraliri darah

Di sekujur tubuh

Yang pamer warna merahnya di lipatan daging tipisku

Bukan pula keringat

yang bangga dengan rasa asinnya

meleleh di setiap lubang jarum poriku

Tak terberati oleh tengkorak

Isinya hanya ada nada subversi

Menimpa kaki-kaki lipanku

Karena cukuplah bagiku Tuhan

Kau anugerahi Cinta

Yang bilik-bilik jantung

Tak mampu menahan getar ombaknya

Biarkanlah ruang-ruang itu terisi Cinta

Mengganti kandungan maknanya

Darahku Kau rampas

Keringat dan otak biarlah Kau peras

Asalkan Cinta, ijinkanlah dalam pelukanku

Mengelus Ayam Jago

Pernahkah kau melihat ayam jago bertarung murka

Dengan membentangkan lima jari di depan muka

menembus ke ujung sana

yang tampak bukan taji bukan darah bukan tahi

Hanya ada satu ketakutan melewati babak

Disambung taji dengan bilah tajam-runcing

Menerjang, menghardik, mencakar

Sakit itu bukan urusanku aku butuh darahmu

Aku hirup lukamu akan kupecahkan otak borokmu

Your fuck’in shit head!!!

Mana peradaban di situlah kau gantungkan nama

Samdi Samdi Samdi……..kau ayam jago

Tajam kau memecah kehampaan

Sorakan memecah kesunyian banjar

Bayi-bayi tak sempat menangis meminta makan

Pisang ambon untuk umpan, minyak kasturi mengkilatkan jambul dan ekor

Tekor tekor tekor……

Tahi Jago harum sewangi kemenyan

Kaki candi seperti cakar ayam

Diletakkan rapal doa dan apem persembahan

Bulu-bulumu halus merangsang

Membuatku melayang ke atas sana

Di antara mega dan lautan bintang

Menghunjam………….dalam seribusatu galaksi

Aku tak sadar

Masih terselip di antara dua sayapmu

20

Bilah karatan tak tahu siapa yang memasang

Jariku tergores

Gelap, gelap gelap…. menghantam kepalaku

Aku menggelepar perutku mengejan

Aaaaaaaaahhhhhh………

Yogyakarta, 8 Juni 2004

Tarian Jemariku

Dua minggu berbelit ujian

Apa yang kutimpakan?

Sembilan matakulaih menuntut makalah

setiap malam menjelang pagiku

adalah mata yang terbuka

dua jari manisku menjadi saksi sebuah ambisi

beasiswa, prestasi, ataupun behasiswi

belum lagi punggung yang telah bosan

menempel di kayu yang mati ini

kawin, kawin, kawin

kerja, kerja, kerja

entah apa lagi yang ingin disemburkan

setiap gugatan dari tubuhku

katakan, katakan, katakaaaaaannn……

berontak monitor komputerku tiba-tiba

dengan apa yang kau goreskan di tubuhku adalah kejujuran

perasan dari otak dan keringatmu

kata-kata dengan pelumas darah kalbumuuuuuu….

Manis

seribu manis bertubi-tubi

Pejamkan matamu setiap dua puluh menit

Barangkali,

kau bisa melanjutkan tarian jemarimu

Klebengan Depok Sleman,

16 Januari 2003. 04.35 WIB.

Ulang Tahun

untuk: Anna

Untuk kesekian kali

Dunia ini bukan milikmu

Lingkar bumi mencipta angka

Gulir surya berbuah nyawa

Ladang Pena

Padang kebaktian, Padang keabadian

“Jangan ragu sayang”

“Jangan takut Maduku”

Tindas aku-mu genggam keAkuan

Kali ini nyawa bukan lagi angka

Tapi nafasmu

pada roh yang belum bernama

Tarian ronggengmu

Ayo gerak, ayo goyang

dunia mengejar, dunia mengejar

bukan pengibing dan suwelan

Kali ini nyawa bukan lagi nama

Memanggil-manggil tubuh yang bergelayut luka

Luka cinta, luka sukma, luka kata

Tahunmu meneteskan madu bumi

Pena mengukir cinta

Yogyakarta, 30 Maret 2003

Kisah dari negeri kampus

Inilah sebuah kisah

Dari panggung berundag

Bernama universitas

Setiap anak tangga adalah birokrasi

Tanpa stupa tiada sang Buddha

Mudah sangat kau kenali

Sudut-sudut mejanya adalah perintah

Para mBaurekso

Priyagung nan botak kepala

Tak mengajariku

Tentang tetes air dan cinta

Melainkan

Administrasi

Yang menciptakan relitas

Di luar kenyataan sesungguhnya

Dunia hitung-menghitung

Dunia catat-mencatat

Dalam kerumitannya yang membuncah

Dunia…

yang kehilangan kekekalan kata-kata

Aku berkacak pinggang di sini

Di ruang gelap berdinding kertas

Tiba-tiba

Aksara berterbangan

Memilin mendengung dalam serombongan lebah

Menancapkan sengatnya di kepalaku...

Lebah di taman

Kau tak memberiku racun

Tapi madu

Dan kau lipatkan energiku

Aku berkacak pinggang di sini

Kutendang saja kertas-kertas itu

Kuinjak-injak dan kuhempaskan

Kedalam bak sampah

Kusiramkan minyak

Di atas keangkuhan titahnya

Jiwaku yang merdeka

Jiwaku yang kuasa

Peluh menyadarkanku

Dari guyuran ether kesarjanaan

Merayuku dalam tarian telanjang

Menggairahkan dunia dalam goyangan

Sajak

Sajak cinta

Kumasuki nirwana imajinasi

Kutelusuri syair-syair Sang Nabi

Ngawen Muntilan, 29 Mei 2005

Hikayat Sampan dan Perahu

sebilah dayung telah kau himpitkan di dada

segeralah kau ringankan langkah

memasuki sebuah sampan

dan kau tanggalkan satu perahu lain

di pelabuhan

lepaskan saja jeratan talinya

dan hempaskan tubuhmu

di buritan dengan nyaman

biarkan air danau itu berkecipak

mengintimi ayunan tanganmu

yang penuh kebocahan

yakinlah…

seseorang akan melepas sauh perahu

yang kau tanggalkan

untuk menjaring ikan

atau bersesapa di keramaian pasar lelang

jangan kau ragu

perahumu takkan berpusing

ditelan gelombang

jangan pula kau bimbang

sebuah sampan yang kau selonjori

akan memperkenalkanmu

pada hulu dan hilir

kau

mustahil berjumpa arah

bila satu kakimu menancap di geladak perahu timur

dan sejenjang lagi

kau gemulaikan di sampan yang berayun jenaka

Ngawen Muntilan, 29 Mei 2005

Mencintaimu setengah badan

Aku ingin mencintaimu setengah badan

Tanpa yoni per-indukan

Jalin jemalin dalam ritus agama

Upacara dengan Negara

Perayaan dengan pemilik corong hiburan

Dan pesta para pedagang yang menjaja khayalan

Cukup kau kerling mata

yang tulus

Senyum simpulmu yang bergingsul

Sebentuk bibir ara yang merekah

Rambut menjuntai hitam mengembang

Wajah cerah lembut nan cerdas

Leher putih berjenjang

Di kudukmu kutemukan setitik tahi lalat yang menggoda

Hatiku tertawa

Seperti Siddhartha bertemu Gotama

Ingin kucium keningmu

(Bogor, 7 Juli 2005

Jatuh Cinta

Kini

Aku mengenal satu kata; ketidakpastian

Setakik azimat yang tak diketahui oleh Tuhan

Ketidakpastian adalah saudara kandung kebingungan

Oleh orang-orang pintar disebut filsafat

Oleh sastrawan dinamai kelainan

Kadangkala juga tersemat label cinta

Yang tak lagi tunggal

Ya sudah

Kuikhlaskan saja ia

Memagut hatiku

Seperti lepra yang membonggoli

tungkai tangan dan kaki

atau kerayap bakteri diare di negeri tropis ini

pagi kedelai

sore menjadi tempe

Kurelakan semua

Tanpa tangis kanak-kanak

Kulipat kini

Suara-suara tua yang berucap lirih:”kalau dulu….”

Atau janda

bergulung isak yang tertahan

Bogor, Tanah Sareal, 7 Juli 2005

Di tepi kali Blongkeng aku menatapmu

Cempaka Emas bertetangga Carrefour

Seperti symbol lingga

Mencakar-cakar langit bermega lelah

Menelanku di liatan peradaban kerja

Cahayaku jauh di daratan

Menyeret kenangan di kali itu

Dan lelampauan kini hadir kembali

Tilas persenggamaan itu begitu kental

Cantik

Air bertemu air

Cinta bertemu cinta

Bershaf-shaf kita menggaris kehijauan sawah

Burung-burung belibis bercericap

Tak ada laku birahi di sana

Rerumputan bergoyang

lumut merapuh batu

Keong berjalan

Senja memerah

Embun menaiki angin

Padi menundukkan biji

Begitu indah di mata kanak-kanak kita

Tanpa berpusing mencari makna di baliknya

Kita bukan manusia deduksi

Yang khusyuk bersimpuh di bawah ajaran dan kata-kata

Mari bermain di kali

Sempurnakan sorak-sorai

Tuhan sedang berpesta kebun!

Beri aku setangkup kerikil sungaimu

Kecipak mineral yang menyapu wajahmu

Kita hancurkan teori palsu

Kita basuh omong-kosong lalu

Di tepi kali blongkeng aku menatapmu

Bermandi darah bahagia

Kau belajar berrenang

Goyang-goyangkan kaki

Bagai ikan duyung dijaring buih

Sesekali menyelam

Menemukan sosok di kegelapan

Jantungmu tersentak ngilu

Kau masih menyimpannya

Mata menghunjam mata

Di tepi kali blongkeng aku menatapmu

Kau hadir di sana

Tanpa tujuan

Tenggelamkan diri dalam benda-benda

Begitu saja

Di tepi kali blongkeng aku menatapmu

Melingkarkan tangan

Merangkul leher nadi kebebasan

Canda tawamu bukanlah hiburan

Tapi kehidupan itu sendiri

Kali blongkeng setia mengalir waktu

Demikianlah lakon di bumi ini

Setiap orang mengambil

Setiap orang memberi

Tilas persetubuhan itu bertambah jelas

Cantik

Hingga jiwa bertemu jiwa

Tirta berjumpa nirwana

Di tepi kali blongkeng aku ingin

Menatapmu

Lagi

Jakarta-Bogor, 9 Juli 2005

Dunia yang kuimpikan

Sepetak rumah kecil

Berlabur biru

kuning tak mengapa

Berpagar putih

Besi-besi langsing

Tanpa khrom

Kilatnya

Biarlah dari lampu gantung

Di atas pintu

Di sore yang ranum

Pohon jambu berkarib lincak

Kumanjakan diri

Dua tumpuk buku

Segelas teh hangat

Bukan kopi bukan cerutu

Membaca

Lalu menulis, mendengar, tertawa-tawa

Sesekali kucing mengeong

Cicak memercap

Bercinta kejar mengejar

Di ruang belakang

Istriku takzim menggeser-geser mouse

Taman kecil menatapku

Rumput menghijau

Layak lapang golf

Bunga cocor bebek menyaring embun

Pohon palem setinggi bandulan

Pancuran tiada lalai gemericik

Menaklukkan hatiku semau-maunya

Aku menyerah

Di senandung rumah kecilku

Di sini

Mengelap-elap hatiku

Yang siang tadi dibalut

Comberan bis yang menderu

Tanah Sareal, 8 Juli 2005

Cempaka Putih

Pernahkah kau mendengar suara dari ketinggian

Adzan seakan menyerap mega-mega

Aku tak menyimaknya

Namun

Selaksa ikut menggemakannya

Dari ketinggian kembar Cempaka Emas

Jalan tol Kemayoran yang melintang

Memantul-mantulkan ajakan suci

Dari not-not pemujaan

Menuju irama penegasan Ilahi

Angin menderas

Mengayun-ayunkan mata

mata kalbu mata layu mata rantai mata mata

Jakartaku kali ini

Kau panggil aku Upi’

Mengingatkanku pada simbah

Yang sering mencuci popokku

Di kampung Lancar ini

Orang-orang bergegas

Bersitatappun entah sempat

Sia-sia juga pamer lipstik dan kaos ketat menggunduk

Rumah putih di persimpangan

Dicandai oleh majikan dan pembantu

Antara Makkah, Roma, atau Palestina

Bersatu dalam titik meja makan

Berbagi piring dan mengorek sambal

Meski amis daging giling

Kolam lele yang pekat

Serum beralkohol dan serbuk obat

Besi-besi tua berkarat

Kucium bau orang-orang bekerja

Jakartaku kali ini

Harum cempaka terhirup di sini

Kemayoran, 02 Juli 2005

Setan Nunggang Sedan

Anak-anak

Hari ini masih pelajaran sejarah kolonial

Tutup saja bukumu

Atau robek saja kertasnya

Toh, milik perpustakaan tidak untuk diperdagangkan

Sejanak kita berjalan-jalan di keramaian

Tapi, jangan kalian bawa penggaris logam

Atau ikat pinggang gerinda

Sluman slumun jumpalitan

Zamane zaman sedan

Yen ra sedan ora keduman

Tuhan dan setan berjabat tangan

Merapal undang-undang

Melembur peraturan

Atas nama kesucian dan keindahan

Di bawah ikon peradaban mesum pariwisata

Kemana lagi mereka melepas lelah

Menyenggamai istri seperempat malam saja

Mengeloni cinta secukupnya

Bukan gincu atau parfum

Sekadar membebas erangan, cukuplah

Atau bermain gaple

Menyentakkan lembaran cemban

Mereka bukan Yudisthira yang dipuja

Mempertaruhkan kerajaan

Atau istana hutan

Mereka hanya punya gubuk kardus

Tikus kecoa enggan berkakus

Anak-anak

Ayo, kita intip sejenak

Tak usah kalian catat di kertas

Lebih baik kau berikan pada mereka

untuk menambal dinding rumah atau menyalakan api dapur

Kang…

Kalau kau sudah birahi

Perkosa saja istri setan

Sekalian…

Kau bikin Tuhan dan Iblis marah

Jangan lupa

Ambilkan aku celana dalamnya

Punyaku sudah jamuran

Ya, tapi...

Kemana kutemukan setan

Mereka suka dandan di hotel

Ketimbang nongkrong di pemakaman

Tanah Sareal, 8 Juli 2005

Kotak Warisan

Berbungkus kain belacu tua

Belum kenal pewarna

Hanya nila atau indigo warisan Belanda

Berserat laba-laba

Sekuat galih ekor kuda Sumbawa

Di liang peradaban keluarga

Lampau kini dan esok berjumpa

Merapal doa mendupa puja-puja

Sesaji kota sesaji desa

Dari lumbung-lumbung ketulusan

Saling berbagi kisah dan canda

Kotak warisan dibuka

Secarik aksara ditelan debu

Mata telanjang tak sanggup menyerbu

Lalu

Para empo menggedor-gedor dada

Mamak-mamak mengurai mata

Bocah montok kota melonjak

“Hei, seperti kain kaku bekas ingusku!”

Tanpa aba mereka terpingkal

Tanpa komando mereka terdiam

Ini hanya coretan ringan

Jadwal memandikan si Rojempang

Bukan asmaradana

Raja dan permaisuri kita

Perjumpaan dua insan bisa dicatat

Bebukitan dan udara bisa menjelma sejarah

Tapi sejak kapan

Kaum bijak bisa menulis

dalam bilangan tempo

Dua hati yang bertaut?

Kotak itu mewariskan kebersamaan

Tanah Sareal, Bogor, 7 Juli 2005

Indonesia Raya di mulut pembantu

Siapa bilang lagu-lagu nasional bercitra militeristik

Bagi Mardiyah

Lagu-lagu itu menghibur

Pembantu di rumah kakakku

Gadis Sunda usia 15 puasa

Ia tak kenal dwifungsi ABRI

Apalagi fasih berteriak: “kembalikan militer ke barak!”

Dikaguminya tentara

Berdiri gagah dan memegang senjata

Yang membungkuk badan mencium tangan ibunya

Siapa bilang lagu-lagu nasional

dengan tarikan nafas nasionalisme

Mardiyah belajar menyanyikannya semasa SD

Bergedung tembok retak

Genteng menetes air dan cahaya

Roboh enggan tegak tak mampu

Lagu-lagu memberi canda tawa

Ibu guru mengajarkan

Mengulang-ulang syairnya

Sesekali meludah dan membuang dahak

Namun lebih khusyuk membetulkan rok dan BH-nya

Siapa bilang lagu Indonesia Raya

dimakzulkan dengan kepala mendongak

Tangan ditangkupkan ke samping

Seperti duda mengigil dingin

Mardiyah mendendangkannya

Sambil mencuci piring

dan mengepel lantai basah kencing

Tanah Sareal, 8 Juli 2005

Rumah Batin

Kau singgahi rumahku

sebentar saja

Belum sempat kau buka tirainya

Sejenak mengintip tilam untuk tetirah

Kau beruluk salam di halaman

Aku menjawab perlahan

Sebagai sesal kesombonganku semalam

Kita saling menahan

Di lincak itu

Gelap memberi keintiman

Kita tak saling berhadapan

Hanya bersebelahan

Angin mengalir pelan

Tak ada selembar daun di pundakmu

Agar aku bisa membersihkan

Di depan pohon kelapa

Batangnya, pelepahnya, nyiurnya

Bilahan bambu yang kita duduki mengkeriyut

Menyambut tawa

Menangkap detail-detail cerita

Seorang gadis manis rambut sebahu

Belasan tahun

Tak menyerahkan tangis pada anjing tetangga

Sepatu kanannya terkoyak

Menemukan gantinya

Sama-sama kiri

Tapi tak mengapa

Toh masih bagus dan berwarna

Bersama teman, aku akan bernyanyi

Mereka takkan melihat ayunan kakiku

Keberanian nan nakal menyergap

Sepanjang jalan mulut mungil bersenandung

Melonjak-lonjak

Menyapa pagi

Menundukkan muka pada mentari

Senja hari

Mematut-matutkan diri di muka cermin

Segumpal iman mengeram

“Kuhias rambutku dengan jilbab”, putusnya

Dibongkar-hamburkan lemari sang mama

Hanya ada taplak meja

Meski bordir dan lecikpun bukan

36

Ditemukannya wajah yang anggun

Baru sehari rok panjangnya dijulurkan

Melilit pinggulnya yang mengembang

Ujung-ujungnya yang berkanji menjadi kaku

Oleh rumput yang basah

Kali pertama tersisip rasa aneh

Berangkat ia menuju sekolah

Melewati jembatan

Di bawahnya penuh ikan

Mujahir, mungkin juga emas atau pula nila

Ia hanya memandang

Enggan menamai

Dari kejauhan

Tanah yang berbukit

Keindahan meluluhkan segala

Hanya satu kemirisan

Rumah sakit putih di seberang

Cat terkelupas, genteng berderak, tembok terlarak

Tak mengapa, lagi-lagi

Aku akan berjumpa kawan

Pergi ke perpustakaan

Dan menorehkan nama di daftar peminjaman

Ia

Gadis mungil bernama mungil

Bersicepat-kebat

Supaya lekas tumbuh dewasa

Gadis mungil bernama mungil

Kini menggelar pelaminan

Di rumah batinnya

Meramaikan dunia para pangeran

Yang menggigit kesunyiannya masing-masing

Gadis mungil tak lagi mungil

Nama, tubuh, dan jiwanya

Menggedor-gedor pintu rumahku

(Bogor, 10 Juli 2005)

2 Comments:

At 7:55 PM, Blogger onez said...

senang aku membacanya... sepertinya sensitifitas penulis sangat tajam, hal ini terlihat dari refleksi containtnya..
thanx

 
At 11:02 AM, Blogger ahmad-nashih-luthfi said...

wah, sayang sekali blog-ku ini kelupaan pasword-nya, jadi dah beabad2 nggak di up-date. sekarang pindah di:
ahmadnashihluthfi.blogspot.com

 

Post a Comment

<< Home